add

5 Posting Terbaru

Kamis, 14 Februari 2008

Ramos Horta Ragu Jadi Kandidat Sekjen PBB


JOSE Ramos Horta, peraih Hadiah Nobel Perdamaian, selama lebih dari tiga puluh tahun menjadi figur kehidupan politik di Timor Leste. Ia dengan gigih membantu memimpin kampanye kemerdekaan Timor Leste di luar negeri agar terlepas dari Indonesia, yang sebelumnya merupakan koloni Portugal. Tentu saja upaya itu telah menuai perbedaan pendapat internasional, termasuk dari Indonesia. Namun, berkat kegigihannya, ia berhasil menempatkan nasib Timor Leste menjadi agenda global. Atas pertimbangan dan kegigihan untuk kemerdekaan itulah, ia pun berhasil meraih Hadiah Nobel Perdamaian.

Setelah akhirnya mendapatkan kemerdekaan, Ramos Horta kemudian ditunjuk sebagai menteri luar negeri dari pemerintahan yang dipimpin PM Mari Alkatiri yang akhirnya jatuh, setelah terjadi kerusuhan berdarah dipicu ketidakpuasan di tubuh militer pimpinan Alfredo Reinado, menyangkut soal kesejahteraan dan perlakuan tidak adil anak buahnya.

Di tengah ketidakpastian itulah, peraih Nobel ini muncul kembali sebagai tokoh yang dipandang banyak pihak bisa memperbaiki stabilitas di negaranya. Ia diangkat sebagai perdana menteri kedua pasca-Timor Leste memperoleh kemerdekaannya. Keadaan politik di negaranya sedikit membaik.

Ketika digelar pemilihan umum yang pertama di negara kecil ini, Ramos Horta kemudian mencalonkan diri sebagai presiden. Ketenaran namanya, baik di dalam maupun luar negeri menjadi bekal memuluskan dirinya menjadi presiden kedua Timor Leste.

Dalam pemilu yang digelar Mei 2007, Ramos Horta berhasil menyisihkan tujuh kandidat lainnya, termasuk pemimpin gerilyawan dan Fretilin Francisco Guterres.

Ramos Horta hampir selama 24 tahun mengasingkan diri di luar negeri, berhasil melakukan lobi dengan pemerintah asing dan PBB untuk mendapat kemerdekaan bagi negaranya, terutama setelah Timor Timur bergabung sebagai provinsi ke-27 Indonesia.

Ia pun memberanikan diri kembali ke tanah airnya dan menggalang kekuatan bersama Uksup Carlos Belo, serta mengampanyekan agar negara yang mayoritas penduduknya umat Katolik ini untuk merdeka.

Pada saat itu, Komite Nobel mengatakan akan membantu memecahkan masalah di Timor Timur, berdasarkan hak rakyatnya untuk menentukan nasib sendiri. Seiring dengan diraihnya penghargaan Nobel oleh Ramos Horta, ia pun gencar mengungkap tudingan adanya berbagai tindak kekerasan dari pemerintah Indonesia, sehingga semakin menarik perhatian para aktivis HAM internasional.

Bahkan Ketua Nobel di Swedia, Francis Sejersted, ketika itu menyatakan bahwa konflik itu tidak bisa dilupakan dan harus memberikan dukungan untuk menyesaikan konflik tersebut.

Tentukan nasib sendiri

Ketika Ramos Horta gencar melakukan kampanye untuk mendapatkan kemerdekaan, Indonesia diterjang krisis ekonomi disusul dengan jatuhnya Presiden Soeharto pada Mei 1998.

Beberapa tahun kemudian, rakyat di Timor Timur kemudian menyelenggarakan referendum untuk menentukan masa depannya. Hasilnya, sekitar 78,5 persen memilih untuk melepaskan diri dari Indonesia.

Selama proses transisi pemerintahan, Timor Timur sempat dilanda berbagai aksi kekerasan sehingga memaksa PBB untuk turun tangan, dengan mengirimkan ribuan pasukan penjaga perdamaian.

Di masa kritis ini, Ramos Horta kembali ke negaranya. Pada tahun 2002, Timor Leste mendapat kemerdekaan penuh dan berganti nama menjadi Timor Leste.

Di bawah pemerintahan Perdana Menteri Mari Alkatiri dan partainya Fretilin, Ramos Horta menjadi pemimpin untuk berdiplomasi dengan pemerintah asing. Empat tahun kemudian, terjadi kerusuhan yang mengancam perpecahan di negara baru ini. Mari Alkatiri kemudian dituduh sebagai pemicu terjadinya kekerasan, setelah sekitar 600 tentara dari 1.400 personel kekuatan militer dipecat. Akibat kerusuhan ini, sedikitnya 21 orang tewas dan 150.000 warga terpaksa meninggalkan rumahnya.

Tentara di bawah pimpinan Mayor Alfredo Reinado yang tak puas ini, kemudian lari ke hutan dan melancarkan pemberontakan.

Perdana Menteri Mari Alkatiri, lalu mengundurkan diri dan tiga pekan kemudian, Presiden Xanana Gusmao mengangkat Ramos Horta sebagai perdana menteri, menggantikan Mari Alkatiri.

Pada tahun 2007, ketika ramai-ramainya dibicarakan kandidat pengganti Sekjen PBB Kofi Annan, Ramos Horta pernah disebut-sebut sebagai kandidat kuat. Namun, rupanya masalah di dalam negeri memaksanya untuk mencurahkan tenaga dan pikirannya, sehingga ia ragu-ragu untuk maju mencalonkan dirinya sebagai Sekjen PBB.

Hal ini tercermin dari wawancara dengan kantor berita asing dengan mengatakan, "Bagaimana jadinya jika saya meninggalkan Dili pada saat saya masih diperlukan di Timor Leste?" katanya. (Sumber PikiranRakyat.com)***

Bra Shakira Terjual US$ 3.000


Los Angeles, Berapa biaya yang biasa Anda keluarkan untuk membeli pakaian dalam? Seorang fans Shakira baru saja membayar US$ 3.000 untuk sebuah bra milik penyanyi latin itu.

Bukan hanya bra, penggemar Shakira yang lain rela merogoh kocek hingga US$ 14.000. Uang yang nilainya hampir Rp 140 juta itu memberinya kesempatan bertemu Shakira dan nonton pertunjukannya di Toronto. Tentu saja di baris paling depan.

detikhot kutip dari Yahoo!News, Rabu (13/2/2008), total ada 40 barang yang didonasikan Shakira untuk amal di internet. Hasilnya akan didonasikan pada yayasan miliknya, Bare Feet Foundation. Yayasan itu membangun sekolah untuk anak-anak tak mampu di belahan utara Kolombia. Negeri asalnya.

Selain bra dan tiket konser, ada juga rok bernuansa ungu dengan manik-manik. Rok itu dikenakannya saat menyanyikan hitsnya 'Hips Don't Lie'. Rok itu hanya mampu mengeruk US$ 1.000.

Lelang masih akan berlangsung hingga Minggu (17/2/2008) mendatang. Barang yang tersisa antara lain gitar lisrik Fender dan gitar akustik Taylor. Keduanya dibubuhi tanda tangan Shakira.

Berapa uang yang terkumpul dari lelang internet itu? Hingga saat ini telah mencapai US$ 76.000! (MGTRadio.com)

Senin, 11 Februari 2008

Mengenal Minuman Berkarbonasi


Soda pertama kali ditemukan oleh seorang ilmuwan Inggris bernama Joseph Priestley pada tahun 1770-an, yaitu ketika ia berusaha mencampurkan air destilasi dengan gas karbondioksida (CO2). Soda mulai dikenal luas ketika ilmuwan Inggris lainnya, yaitu John Mervin Nooth menyempurnakan penemuan Joseph Priestley dan menjualnya sebagai obat. Pada tahun 1830, sebuah pabrik minuman berkarbonasi pertama kali berdiri di Amerika Serikat.

Air soda memiliki rumus kimia H2CO3. Untuk membuat air soda, komponen yang paling penting adalah air dan gas karbondioksida. Air soda memang dibuat dengan melarutkan gas karbondioksida (CO2) ke dalam air.

Sama seperti oksigen, karbondioksida merupakan gas yang banyak terdapat di alam. Karbondioksida merupakan gas yang kita keluarkan saat bernapas dan diambil oleh tanaman untuk proses fotosintesis. Bila diinjeksi ke dalam air dengan tekanan tinggi, karbondioksida akan membentuk asam karbonat. Itulah sebabnya minuman berkarbonasi disebut juga minuman berkarbonasi (carbonated beverages). Asam karbonat tersebutlah yang bertanggung jawab terhadap timbulnya sentuhan khas soda di mulut (mouthfeel) dan perasaan yang mengigit (bite) pada saat minuman berkarbonasi.diminum.

Selain itu, gas karbondioksida juga berpengaruh terhadap timbulnya efek extra sparkle, yang membedakan minuman ringan berkarbonasi dengan non-karbonasi. Extra sparkle adalah efek penampakan berkelap-kelip pada minuman. Secara praktis CO2 adalah satu-satunya gas yang paling cocok untuk memproduksi penampakan sparkle dalam minuman ringan berkarbonasi. Kelarutan gas karbondioksida sedemikan rupa, sehingga dapat bertahan dalam cairan pada suhu ruang. Jika dikocok secara perlahan, gas tersebut akan melepaskan gelembung dalam minuman.

Keberadaan karbondioksida pada minuman dapat diibaratkan seperti rempah-rempah pada makanan. Karbondioksida dapat meningkatkan citarasa pada minuman sehingga orang menikmati saat mengonsumsinya. Pada saat larut dalam air, CO2 memberikan rasa asam sehingga dapat menurunkan pH menjadi sekitar 3,2 – 3,7. Rasa asam tersebut merupakan rasa khas soda yang membuat orang teringat terus akan rasanya.

Salah satu keunggulan minuman berkarbonasi adalah aman dari kontaminasi bakteri, terutama bakteri yang bersifat patogen (penyebab penyakit). Gas karbondioksida yang larut dalam air, bukan hanya menghasilkan rasa yang spesifik, tetapi juga dapat berfungsi sebagai antibakteri untuk mengawetkan minuman secara alami.

Kandungan karbondioksida di dalam minuman ringan tergantung dari jenis minumannya. Untuk minuman yang mengandung flavor imitasi, biasanya digunakan kadar karbonasi yang tinggi. Pada minuman dengan flavor buah yang mengandung gula tinggi lebih disukai kadar karbondioksida yang rendah.

Rekor Dunia Untuk Final Sebuah Kompetisi Sepak Bola


LUAR biasa, ingar bingar pertandingan final antara Persib Bandung melawan PSMS Medan pada Kompetisi Divisi Utama PSSI tahun 1982 dan 1984. Penonton meluber hingga ke pinggir lapangan di Stadion Utama Senayan Jakarta. PSSI pun meraup keuntungan besar dari hasil penjualan tiket.

Konon, itu menjadi rekor dunia untuk sebuah pertandingan sepak bola yang disaksikan sekitar 120 ribu penonton di sebuah stadion. Badan sepak bola dunia, FIFA, pun mencatat, tidak ada sebuah pertandingan sepak bola yang disaksikan langsung di stadion dengan penonton seperti itu. Hebatnya, tanpa ada kerusuhan karena tim dan pendukung Persib yang saat itu kalah adu penalti, menerima dengan sportif. Itu sejarah manis dunia sepak bola kita.

Kini, sejarah baru kembali dicatat sepak bola Indonesia. Bukan prestasi, bukan pula membeludaknya penonton ke pinggir lapangan. Akan tetapi, rekor pertandingan tanpa penonton. PSSI harus menggelar pertandingan final antara PSMS Medan melawan Sriwijaya FC Palembang tanpa penonton. Ini sejarah baru di dunia sepak bola. Bukan saja di Indonesia, melainkan juga dalam catatan sepak bola dunia.

Sebuah catatan kelabu yang mungkin akan selalu diingat oleh insan sepak bola. Lewat sejarah, khususnya sejarah sepak bola, anak cucu kita juga akan tahu, final Liga Indonesia 2007 antara PSMS melawan Sriwijaya FC dilakukan tanpa penonton.

Pasti, halak kita pendukung PSMS akan kecewa. Wong kito suporter Sriwijaya FC juga pasti akan merasakan hal sama, tak bisa mendukung langsung di Stadion Si Jalak Harupat karena pertandingan dilakukan secara tertutup. Antusiasme pun harus diredam dengan tayangan langsung ANTV.

Bukan tanpa sebab, kalau pihak keamanan hanya mengizinkan pertandingan final harus dilakukan tanpa penonton. Kalau saja partai semifinal yang berlangsung di Stadion Utama Senayan Jakarta tanpa kerusuhan, pasti final itu akan dilangsungkan di sana. Seandainya saja seorang Jakmania, M. Fathul, tidak tewas dengan sia-sia pada usia muda, PSSI pun masih bisa meraup untung dari hasil penjualan tiket.

Boleh jadi, ini merupakan "hukum karma" bagi PSSI. Selama ini, PSSI begitu gencar memberikan sanksi kepada panitia pelaksana (panpel) di daerah. Seolah PSSI yang paling benar, manakala memberikan sanksi kepada klub, pemain, panpel, wasit, atau siapa pun yang dianggap melakukan pelanggaran.

Rasanya, kita sudah tidak asing lagi, mendengar pengumuman Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan sanksi. Ada pemain dari klub A diberi sanksi. Kemudian, ada panpel yang harus menyelenggarakan pertandingan tanpa penonton dan didenda puluhan juta. Terus dan terus seperti itu terjadi, selama Liga Indonesia sejak 1991 hingga 2007 berlangsung.

Akan tetapi, selama itu tak ada yang mampu menyentuh PSSI. Padahal, berkali-kali pertandingan yang panitianya dilakukan PSSI, berlangsung dengan buntut kericuhan dan kerusuhan. Misalnya, pada final Liga Indonesia 2005 lalu, saat pertandingan Persipura melawan Persija di Stadion Utama Senayan Jakarta. Ujungnya juga terjadi kericuhan penonton. Terjadi di depan hidung pengurus PSSI di dalam stadion. Pada semifinal Copa Dji Sam Soe 2007 lalu juga ada kerusuhan yang dilakukan Jakmania di luar stadion.

Tanpa ada sanksi kepada PSSI, seolah-olah PSSI bersih dan tanpa kesalahan. Meski kritik datang secara bertubi-tubi, semuanya tidak digubris. PSSI tetap berada di pihak yang benar!

Menarik sekali, apa yang dikatakan Ketua Umum KONI Pusat Rita Subowo, ketika diwawancarai oleh stasiun Radio Elsinta. Ia mengatakan, PSSI harus berkaca dari semua kejadian ini. Menurut Rita, PSSI harus berbenah lagi memperbaiki diri, termasuk dalam organisasinya. PSSI juga harus mau menerima saran dan kritik dari siapa pun.

Memang betul, apa yang dikatakan Rita Subowo. PSSI sepertinya tidak pernah mau menerima saran dan masukan. Dalam masalah Ketua Umum PSSI Nurdin Halid yang mendekam di penjara pun, PSSI tetap merasa tidak melanggar aturan. Walaupun, FIFA dan AFC sudah menyarankan agar segera dilakukan pergantian.

Kini, sanksi itu sudah datang kepada PSSI. "Hukum karma" tampaknya akan segera berlaku. Meski dirasakan memalukan dunia sepak bola kita, sanksi seperti itu pantas diterima PSSI yang selama ini dinilai arogan.

Selama ini, PSSI selalu berlindung dibalik aturan, meski "aturan main" lain juga terjadi dalam law enforcement yang mereka lakukan. Semoga kasus ini bisa membuka hati PSSI untuk memperbaiki diri dan tidak terjadi lagi di masa mendatang. Cukup sekali ini saja, "rekor kelabu" itu terjadi.
(Pikiran Rakyat)

Rekor Dunia Untuk Final Sebuah Kompetisi Sepak Bola

LUAR biasa, ingar bingar pertandingan final antara Persib Bandung melawan PSMS Medan pada Kompetisi Divisi Utama PSSI tahun 1982 dan 1984. Penonton meluber hingga ke pinggir lapangan di Stadion Utama Senayan Jakarta. PSSI pun meraup keuntungan besar dari hasil penjualan tiket.

Konon, itu menjadi rekor dunia untuk sebuah pertandingan sepak bola yang disaksikan sekitar 120 ribu penonton di sebuah stadion. Badan sepak bola dunia, FIFA, pun mencatat, tidak ada sebuah pertandingan sepak bola yang disaksikan langsung di stadion dengan penonton seperti itu. Hebatnya, tanpa ada kerusuhan karena tim dan pendukung Persib yang saat itu kalah adu penalti, menerima dengan sportif. Itu sejarah manis dunia sepak bola kita.

Kini, sejarah baru kembali dicatat sepak bola Indonesia. Bukan prestasi, bukan pula membeludaknya penonton ke pinggir lapangan. Akan tetapi, rekor pertandingan tanpa penonton. PSSI harus menggelar pertandingan final antara PSMS Medan melawan Sriwijaya FC Palembang tanpa penonton. Ini sejarah baru di dunia sepak bola. Bukan saja di Indonesia, melainkan juga dalam catatan sepak bola dunia.

Sebuah catatan kelabu yang mungkin akan selalu diingat oleh insan sepak bola. Lewat sejarah, khususnya sejarah sepak bola, anak cucu kita juga akan tahu, final Liga Indonesia 2007 antara PSMS melawan Sriwijaya FC dilakukan tanpa penonton.

Pasti, halak kita pendukung PSMS akan kecewa. Wong kito suporter Sriwijaya FC juga pasti akan merasakan hal sama, tak bisa mendukung langsung di Stadion Si Jalak Harupat karena pertandingan dilakukan secara tertutup. Antusiasme pun harus diredam dengan tayangan langsung ANTV.

Bukan tanpa sebab, kalau pihak keamanan hanya mengizinkan pertandingan final harus dilakukan tanpa penonton. Kalau saja partai semifinal yang berlangsung di Stadion Utama Senayan Jakarta tanpa kerusuhan, pasti final itu akan dilangsungkan di sana. Seandainya saja seorang Jakmania, M. Fathul, tidak tewas dengan sia-sia pada usia muda, PSSI pun masih bisa meraup untung dari hasil penjualan tiket.

Boleh jadi, ini merupakan "hukum karma" bagi PSSI. Selama ini, PSSI begitu gencar memberikan sanksi kepada panitia pelaksana (panpel) di daerah. Seolah PSSI yang paling benar, manakala memberikan sanksi kepada klub, pemain, panpel, wasit, atau siapa pun yang dianggap melakukan pelanggaran.

Rasanya, kita sudah tidak asing lagi, mendengar pengumuman Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan sanksi. Ada pemain dari klub A diberi sanksi. Kemudian, ada panpel yang harus menyelenggarakan pertandingan tanpa penonton dan didenda puluhan juta. Terus dan terus seperti itu terjadi, selama Liga Indonesia sejak 1991 hingga 2007 berlangsung.

Akan tetapi, selama itu tak ada yang mampu menyentuh PSSI. Padahal, berkali-kali pertandingan yang panitianya dilakukan PSSI, berlangsung dengan buntut kericuhan dan kerusuhan. Misalnya, pada final Liga Indonesia 2005 lalu, saat pertandingan Persipura melawan Persija di Stadion Utama Senayan Jakarta. Ujungnya juga terjadi kericuhan penonton. Terjadi di depan hidung pengurus PSSI di dalam stadion. Pada semifinal Copa Dji Sam Soe 2007 lalu juga ada kerusuhan yang dilakukan Jakmania di luar stadion.

Tanpa ada sanksi kepada PSSI, seolah-olah PSSI bersih dan tanpa kesalahan. Meski kritik datang secara bertubi-tubi, semuanya tidak digubris. PSSI tetap berada di pihak yang benar!

Menarik sekali, apa yang dikatakan Ketua Umum KONI Pusat Rita Subowo, ketika diwawancarai oleh stasiun Radio Elsinta. Ia mengatakan, PSSI harus berkaca dari semua kejadian ini. Menurut Rita, PSSI harus berbenah lagi memperbaiki diri, termasuk dalam organisasinya. PSSI juga harus mau menerima saran dan kritik dari siapa pun.

Memang betul, apa yang dikatakan Rita Subowo. PSSI sepertinya tidak pernah mau menerima saran dan masukan. Dalam masalah Ketua Umum PSSI Nurdin Halid yang mendekam di penjara pun, PSSI tetap merasa tidak melanggar aturan. Walaupun, FIFA dan AFC sudah menyarankan agar segera dilakukan pergantian.

Kini, sanksi itu sudah datang kepada PSSI. "Hukum karma" tampaknya akan segera berlaku. Meski dirasakan memalukan dunia sepak bola kita, sanksi seperti itu pantas diterima PSSI yang selama ini dinilai arogan.

Selama ini, PSSI selalu berlindung dibalik aturan, meski "aturan main" lain juga terjadi dalam law enforcement yang mereka lakukan. Semoga kasus ini bisa membuka hati PSSI untuk memperbaiki diri dan tidak terjadi lagi di masa mendatang. Cukup sekali ini saja, "rekor kelabu" itu terjadi.
(Pikiran Rakyat)

Sriwijaya FC Juara Liga Indonesia 2007


Soreang - Sriwijaya FC tampil sebagai juara Liga Indonesia 2007 setelah di partai final, yang menghabiskan waktu 120 menit, berhasil mengalahkan PSMS Medan dengan skor 3-1.

Pada laga di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Minggu (10/2/2008), kemenangan Sriwijaya ditentukan oleh dua gol yang mereka cetak di babak perpanjangan waktu, masing-masing melalui Keith Kayamba Gumbs dan Zah Rahan.

Babak extra time diadakan setelah selama 90 menit kedua tim berbagi skor 1-1. Sriwijaya membuka skor lewat tendangan Anoure Obiora di menit 14, sebelum PSMS, yang bermain dengan 10 orang sejak menit 43, berhasil mencetak gol balasan melalui James Koko Llomel di menit 69.

Dengan demikian Sriwijaya FC berhasil mengawinkan dua gelar juara di musim ini karena juga telah merengkuh tropi Copa Indonesia. Prestasi ini merupakan kali pertama yang pernah dicatat sebuah klub di Indonesia.

Pelatih Rahmad Darmawan pun mencetak rekor sebagai pelatih pertama yang membawa dua klub berbeda menjadi juara liga. Sebelumnya ia mengantarkan Persipura Jayapura memenangi Liga Indonesia 2005.

Pertandingan yang digelar tanpa kehadiran suporter -- kecuali tamu khusus dan undangan -- berjalan dalam tempo sedang di menit-menit awal karena kedua tim tampak berhati-hati. Baru di menit 13 terjadi peluang berbahaya, ketika serbuan pemain PSMS masih bisa dihalau bek Sriwijaya dari garis gawang.

Semenit kemudian Sriwijaya mendapat hadiah free kick dari wasit Purwanto sektor kanan pertahanan PSMS. Eksekusi dilakukan Zah Rahan. Ia mengangkat bola pendek saja ke rekannya yang terdekat, Obiora, dan penyerang asal Nigeria itu berhasil menaklukkan seorang penjaganya dan kiper Markus Harison.

PSMS bermain lebih agresif sejak kebobolan. Sedikitnya mereka memperoleh dua peluang melalui tendangan Llomel dan Saktiawan Sinaga, tapi dua-duanya diredam kiper Ferry Rotinsulu.

Celakanya, "Ayam Kinantan" malah mendaki jalan lebih terjal karena di penghujung babak pertama kehilangan seorang pemainnya. Bek asal Liberia Murphy Kumonple Nagbe diganjar kartu merah setelah menerima kartu kuning kedua saat menarik kaos Obiora di menit 43.

Kickoff babak kedua ditandai oleh serangan cepat yang dilakukan Zah Rahan, akan tetapi belum menghasilkan gol. PSMS membalas melalui sundulan Saktiawan di kotak penalti Sriwijaya, tapi upayanya belum membuahkan hasil.

Sejak itu PSMS seperti mendapat kekuatan ekstra. Bermain dengan 10 pemain, mereka malah mampu mengendalikan permainan. Sriwijaya sepertinya menganggap sudah pasti menang. Permainan mereka malah tidak berkembang, termasuk lini belakang yang kehilangan konsentrasi.

Akibatnya, beberapa kali PSMS berhasil menekan pertahanan Sriwijaya yang digalang kapten Renato Carlos. Saktiawan tiga kali melakukan gerakan yang berbahaya di mulut gawang Ferry Rotinsulu, tapi gol tidak tercipta.

Perjuangan anak-anak Medan baru berhasil di menit 69. Dari serangan Andreas Fermento di sisi kanan kotak penalti Sriwijaya, Llomel yang tak terkawal dengan sempurna menyambar umpan silang rekannya itu dan mengubah kedudukan menjadi 1-1.

Sriwijaya tersentak dengan gol balasan tersebut, tapi terlanjur tak bisa mengembalikan irama permainannya. Pertandingan pun harus dilanjutkan dengan perpanjangan waktu.

PSMS memperoleh peluang lebih dulu melalui tendangan bebas Gustavo Chena di menit 97. Akan tetapi eksekusi playmaker asal Argentina itu menggelinding tipis di samping kanan gawang Ferry Rotinsulu.

Sebaliknya, Sriwijaya mulai kembali fokus. Di menit 107 mereka mendapatkan sepak pojok yang kemudian dilakukan Alamsyah. Dari momen itu Keith Kayamba Gumbs berhasil memenangi duel di udara dengan bek PSMS dan kiper Markus Horison. Tandukannya membuahkan gol kedua untuk "Laskar Wong Kito".

Sriwijaya memastikan kemenangannya melalui gol Zah Rahan di enam menit menjelang bubaran. Gol tersebut bermula dari spekulasi Markus Harison naik ke kotak penalti lawan saat timnya mendapatkan tendangan sudut.

Dari kesempatan yang gagal, PSMS malah diserang balik dengan cepat. Zah Rahan yang berada di sayap kanan melepaskan tendangan jauh ke kotak penalti yang masih kosong melompong karena Markus, sang kiper tim nasional Indonesia, belum sampai ke sarangnya.

Gol tersebut memastikan kemenangan Sriwijaya, sekaligus menyudahi perjuangan hebat PSMS mengingat mereka mampu memberi perlawanan yang hebat dengan 10 pemain. (detiksport.com)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Topik Populer Bulan ini