Selamat datang di Blog Giant41 :
Blog ini menyajikan berita-berita terhangat baik dari dalam negeri maupun dali luar negeri.
  • Patahan Opak Peringatan untuk Lembang

Gempa berkekuatan 5,9 skala Richter yang menerjang Bantul dan Klaten pada tahun 2006 diketahui bersumber pada Patahan Opak yang telah lama tertidur. Belajar dari bencana tersebut, perhatian para ilmuwan kini mengarah pada patahan-patahan di Jawa Barat, antara lain Lembang yang melewati permukiman padat.

Petaka yang melanda wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006 merupakan peristiwa yang amat mengejutkan, karena sumbernya adalah sesar atau patahan Opak yang nonaktif.


Gempa itu menggugah kita bahwa setiap patahan, entah aktif ataupun tidak, berpotensi mengancam ribuan jiwa. Berkaca dari kejadian di Opak, lembaga penelitian mulai melakukan survei geologi sesar di Pulau Jawa, terutama di Jawa Barat, agar tak lagi kecolongan.

Survei itu dilakukan para peneliti Indonesia bekerja sama dengan Jepang, melalui Kementerian Negara Riset dan Teknologi dan Japan International Cooperation Agency (JICA). Riset selama tiga tahun ini dinamakan Proyek Pengurangan Bahaya Multidisiplin Gempa dan Vulkanik di Indonesia, melibatkan peneliti dari Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk melakukan survei geologi dan paleoseismologi.

Survei pergerakan patahan menggunakan jejaring global positioning system (GPS) dilaksanakan oleh Kelompok Keilmuan Geodesi Institut Teknologi Bandung (KKG-ITB) yang bekerja sama dengan Geographical Survey Institute of Japan (GSI).

Survei GPS selama tiga tahun terakhir, ujar Ketua KKG-ITB Hasanuddin Z Abidin, dilakukan di tiga sesar utama di Jawa Barat, yaitu Cimandiri, Lembang, dan Baribis. Patahan Cimandiri membentang dari Palabuhanratu hingga Padalarang sepanjang sekitar 100 kilometer (km). Patahan Lembang sekitar 22 km. Di bagian paling timur Jawa Barat ada Patahan Baribis melintasi Subang hingga Majalengka.

Untuk mengetahui pergerakan tanah di sesar tersebut telah dan akan dipasang stasiun GPS di Bosscha Lembang, Kampus ITB, Ciater, Gunung Cireme, Gunung Papandayan, dan Gunung Guntur. ”Dengan pemasangan stasiun GPS ini, dapat diketahui besaran gaya yang bersumber dari zona subduksi lempeng yang memengaruhi keseimbangan sesar-sesar ini,” tutur Hasanuddin.

Penelitian tersebut, ungkap Heri Andreas, seorang anggota KKG-ITB, menemukan adanya bagian ”terkunci” (locking) di sepanjang Sesar Lembang pada kedalaman 15 km-20 km di bawah permukaan tanah.

”Dengan mengetahui data kegempaan terakhir dan tingkat akumulasi energi, dapat diketahui pola deformasi yang terjadi. Untuk itu, diperlukan data GPS dalam kurun waktu yang panjang dan bersifat terus-menerus. Paling tidak perlu waktu lima tahun lagi untuk mengetahui hal itu,” lanjut Heri.

Patahan Lembang

Patahan Lembang yang berada di utara Lembang merupakan salah satu sesar yang menjadi obyek riset LIPI. Pada Kamis (22/10), Eko Yulianto, ahli gempa purba LIPI, bersama peneliti dari Pusat Riset Gempa Badan Survei Geologi Jepang dan tim dari JICA melakukan pengeboran di Lembang.

Pengeboran tanah sedalam 40 km di areal kompleks perumahan mewah di Lembang itu bertujuan menemukan ”rekam jejak” Sesar Lembang selama 40.000 tahun terakhir.

”Data kegempaan dan penelitian di Lembang sangatlah minim,” ujar Eko. Data dari penggalian selama 3-4 hari itu akan melengkapi hasil riset awal Patahan Lembang pada tahun 2008, termasuk membuat simulasi potensi gerakan tanah.

Pada tahun 2008 LIPI pernah menggali tanah di Lembang, tetapi hanya sedalam 3 meter. Hasilnya, diketahui jejak gerakan gempa 3.000 tahun terakhir. Selama itu telah terjadi tujuh kali pergerakan besar Sesar Lembang.

Misteri

Rekaman tersebut diketahui dari lapisan tanah bekas sagpond (areal rawa yang tercipta akibat pergerakan patahan). Namun, belum diketahui mekanisme pergerakan Patahan Lembang akibat lambannya laju pergerakan sesar, 2 milimeter-5 milimeter per tahun. ”Periode kegempaan di Patahan Lembang pun terbilang sangat lama, yaitu 400-700 tahun. Kondisi Patahan Lembang hampir mirip Patahan Opak,” kata Danny Hilman, pakar gempa LIPI.

Jadi tidaklah mengherankan jika tidak ada catatan sejarah yang menunjukkan keaktifan sesar yang membentang Manglayang-Parongpong, Lembang.

Menurut Eko, jika patahan sepanjang 22 km ini bergerak sekaligus, gempa yang dihasilkan bisa mencapai 6,7 skala Richter. Tentang potensi kegempaan ini, Danny menyebut skala 6,9 SR, sedangkan peneliti Jepang, Terriyuki Kato, memperkirakan 7 SR.

Gempa sebesar itu, tutur Eko, sangat berbahaya. Seperti Yogyakarta, struktur tanah di Lembang dan Bandung pun endapan muda, bekas danau purba. Tanah semacam ini belum terkonsolidasi sehingga dapat menimbulkan amplifikasi gelombang. Efeknya mirip bubur di mangkuk saat kita goyang. Gempanya telah berhenti, tetapi guncangannya masih terus terjadi.

Ancaman kelas dunia

Menurut Brian Atwater, paleoseismolog dari United States Geological Survey (USGS), ancaman bencana Patahan Lembang termasuk kategori kelas dunia karena patahan itu berada di dekat kawasan kota yang sangat padat. Hal yang jarang terjadi di dunia.

Di lokasi terlihat, di sekitar patahan itu telah berdiri banyak perumahan dan vila mewah. Kawasan Observatorium Bosscha yang menjadi warisan astronomi dunia juga dilintasi patahan ini.

Gede Suantika, peneliti Pusat Studi Vulkanologi dan Bencana Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, mengatakan, berdasarkan puluhan pengamatan terakhir, gempa di Patahan Lembang jumlahnya sedikit—sesekali dalam lima tahun.

Menurut dia, potensi ancaman gempa yang lebih besar justru muncul dari patahan Baribis di utara Subang. Sesar yang belum banyak dikaji ini tidak jarang menciptakan gempa skala sedang. Sesar ini secara imajiner juga tersambung dengan Patahan Cimandiri.

Isamu Kuboki, Koordinator Proyek Pengurangan Bahaya Multidisiplin Gempa dan Vulkanik di Indonesia, mengatakan, salah satu tantangan terbesar bagi Indonesia adalah menyosialisasikan potensi gempa dari patahan. Mengingat, kebanyakan di sekitar patahan di Indonesia, justru menjadi pusat ekonomi masyarakat. Salah satunya, di Lembang.

Sumber Kompas.com


  • Nuklir Lebih Ramah Lingkungan?


Nuklir adalah salah satu sumber energi yang ramah lingkungan. Bahkan, polusi yang ditimbulkan energi nuklir jauh lebih kecil dibanding polusi energi fosil. Artinya, pemanasan global akibat polusi energi fosil yang terus meningkat sebenarnya dapat diatasi dengan pengembangan nuklir sebagai sumber energi.

"Nuklir itu sangat ramah lingkungan. Orang tidak bisa membedakan mana yang ramah lingkungan dan mana yang berisiko tinggi. Kalau risiko tinggi, iya," ujar Muhamad Najib, anggota DPR Komisi VII dalam Workshop Nuklir untuk Listrik Pangan dan Kesehatan 2009, Kamis (29/10) di ICMI Center, Jakarta.



Namun, sampai saat ini nuklir masih ditakuti dan dianggap momok sehingga jenis energi ini belum dipercaya untuk memberikan kontribusi dalam menyediakan kebutuhan energi di Indonesia. "Kata-kata nuklir selalu jadi momok di Indonesia. Orang awam, kalau baca nuklir, takut," ujar Sugiharto, Ketua Dewan Pakar ICMI saat membuka workshop tersebut.

Menurut data Departemen ESDM, energi primer di Indonesia hanya bersumber dari minyak bumi, gas, batu bara, panas bumi, air, dan biofuel. "Nuklir belum memberikan kontribusi. Mau mulai yang di Jepara, itu selalu diganggu," ujar Muhamad Najib.

Menurutnya, selain kesan yang menakutkan, pembangunan pembangkit tenaga nuklir juga terkendala biaya. "Membangun PLTN memang butuh dana triliunan, tapi kalau sudah jadi, bisa sampai 20 tahun, dan tidak membutuhkan banyak dana," ujar Muhamad Najib.

Untuk itu, Indonesia harus berani mengambil risiko mengembangkan nuklir sebagai sumber energi masa depan. "Batu bara 30-40 tahun habis, minyak bumi 20 tahun ke depan habis," ujar Muhamad Najib.


  • Ledakan Meteor di Bone Lampaui Kekuatan Bom Atom

Ledakan meteor di Bone, Sulawesi Selatan, pada 8 Oktober lalu menyita perhatian ilmuwan dunia. Ledakan yang dipicu asteroid besar itu bahkan dilaporkan sampai terdeteksi oleh alarm infrasound milik Comprehensive Nuclear Test Ban Treaty Organization (CNTBTO) yang berjarak 10.000 km dari lokasi jatuhnya meteorit.


Seperti dilaporkan Spaceweather.com, ledakan besar di Bone dipastikan akibat jatuhnya asteroid berdiameter 10 meter. Kekuatan ledakan itu, menurut peneliti dari University of Western Ontario, Elizabeth Silber dan Peter Brown, setara dengan 50 kiloton bom TNT. Atau, dua sampai tiga kali lipat lebih kuat dari ledakan bom atom yang terjadi di Perang Dunia ke-II.

Sampai-sampai, ledakan ini terdeteksi oleh alat sensor CNTBTO yang memang dikhususkan mendeteksi aktivitas atau ledakan nuklir di bumi. Ledakan ini sangat mengejutkan astronom dunia. Sebab, mereka tidak mendeteksi keberadaan asteroid ini sebelum menghunjam bumi.

Berdasarkan data statistik menyangkut populasi asteroid yang beredar di dekat bumi, asteroid-asteroid cukup besar seperti yang jatuh di Bone biasa menghantam bumi dalam kisaran 2-12 tahun sekali. "Observasi lebih lanjut akan sangat berharga untuk bisa menjelaskan event unik ini," tutur Silber.

Seperti diketahui, ledakan asteroid ini sempat mengakibatkan kepanikan warga. Tanah-tanah dan bangunan bergetar, langit pun bergemuruh. Awalnya, ledakan ini sempat dikira ledakan pesawat, bahkan sampai gempa.

Sumber Kompas.com


  • Valentino Rossi Juara Dunia 2009!

SEPANG, Pebalap Italia, Valentino Rossi, memastikan diri menjadi juara dunia MotoGP 2009 setelah menempati posisi ketiga di GP Malaysia, Minggu (25/10).

Rossi menempati posisi dalam lomba yang akhirnya dimenangi oleh pebalap Ducati asal Australia, Casey Stoner. Sementara itu, pebalap Spanyol, Dani Pedrosa, berada di posisi kedua. Rossi, pebalap tim Fiat Yamaha yang sudah unggul 38 poin dari pesaing terdekatnya, Jorge Lorenzo, hanya butuh posisi empat besar untuk mempertahankan gelar juara dunia.


Lomba GP Malaysia ditandai dengan dihukumnya pebalap asal Spanyol, Jorge Lorenzo. Menempati posisi kedua dalam kualifikasi, Sabtu, Lorenzo terkena hukuman karena dianggap gagal menempati posisi pada waktunya. Lorenzo sendiri akhirnya masuk finis di urutan keempat.

Balap MotoGP sempat ditunda beberapa menit akibat hujan deras yang mengguyur sirkuit Sepang. Sebelumnya, cuaca cukup cerah sehingga semua pebalap bisa melakukan sesi pemanasan Minggu pagi.

Hasil GP Malaysia, Minggu (25/10):
1. Casey Stoner Ducati 47m24.834s
2. Dani Pedrosa Honda + 14.666s
3. Valentino Rossi Yamaha + 19.385s
4. Jorge Lorenzo Yamaha + 25.850s
5. Nicky Hayden Ducati + 38.705s
6. Chris Vermeulen Suzuki + 41.061s
7. Toni Elias Gresini Honda + 48.555s
8. Marco Melandri Hayate Kawasaki + 55.557s
9. Loris Capirossi Suzuki + 1m00.303s
10. Mika Kallio Pramac Ducati + 1m00.440s
11. Aleix Espargaro Pramac Ducati + 1m01.655s
12. Alex de Angelis Gresini Honda + 1m01.847s
13. Colin Edwards Tech 3 Yamaha + 1m10.778s
14. Gabor Talmacsi Scot Honda + 1m15.851s
15. James Toseland Tech 3 Yamaha + 1m50.672s

Gagal finis
Andrea Dovizioso Honda 14 lap
Randy de Puniet LCR Honda 1 lap


  • Taman di Bandung Mulai Dilengkapi "Hotspot"

BANDUNG, Kreativitas di Kota Bandung memang tidak ada matinya. Untuk mendorong kreativitas dan meningkatkan kenyamanan warga kota, Taman Dago disulap menjadi tempat nongkrong yang asyik, bahkan dilengkapi fasilitas hotspot (Wi-fi) gratis.

"Taman kota harus bisa multifungsi. Tidak hanya dengan fungsi hijaunya, melainkan juga bisa menjadi tempat warga untuk santai-santai, belajar, dan berbagi informasi. Makanya, Taman Dago ini nantinya akan dipasang hotspot," tutur Sekretaris daerah Kota Bandung Edi Siswadi di dalam peresmian Huruf Dago di Taman Dago, Sabtu (24/10).




Ketua Bandung Creative City Forum (BCCF) Ridwan Kamil mengatakan, untuk membuat warga merasa tertarik dan nyaman berada di sebuah taman kota, harus ada elemen baru di dalamnya, misalnya, melalui sentuhan faktor estetika. Pembuatan Patung Huruf Dago di Taman Dago merupakan salah satu upayanya.

Menjadi tantangan bagi kita bagaimana membuat orang-orang berdatangan ke taman kota, bukan lagi mal, tutur arsitek pendiri Urbane Indonesia ini. Ia bermimpi, di Kota Bandung, ke depan, akan semakin banyak taman-taman tematis yang berdiri.

Hal ini akan menjadikan Bandung sebagai kota yang paling nyaman, kota dengan kualitas hidup tertinggi di Indonesia, tutur Ridwan Kamil berharap. Merujuk pada polling Metro 10 yang dilakukan Metro TV, Kota Bandung adalah kota nomor dua dengan kualitas hidup terbaik di Indonesia. Bandung masih kalah dibandingkan Yogyakarta.

Patung Huruf Dago yang direncanakan berbahan tembaga akan dibuat George Timorason, pematung dari Bandung. Saat ini, di tempat yang sama, untuk sementara berdiri replika Patung Huruf Dago yang terbuat dari kayu. Replika ini dibuat oleh Rumah Makan Bumbu Desa.

Edi Siswadi berharap, ke depan, seluruh taman kota di Bandung akan menerapkan konsep serupa, yaitu bahwa taman kota sebagai ruang publik harus bisa menopang industri kreatif yang kini tumbuh subur di Bandung. Di Kota Bandung, saat ini terdapat sekitar 604 taman kota yang berfungsi sebagai ruang terbuka hijau.

Sumber : Kompas.com

Archives

Bookmark

AddThis Feed Button Bookmark and Share
Add to Technorati Favorites Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net