add

5 Posting Terbaru

Rabu, 27 Februari 2013

Indonesia ingin tiru visa diaspora India

Indonesia ingin meniru langkah India dalam mempersatukan warga negaranya di luar negeri (diaspora) lewat kartu visa khusus.

Dubes RI untuk AS Dino Patti Djalal ( ANTARA/HO-Arif)
Dubes RI untuk AS Dino Patti Djalal ( ANTARA/HO-Arif)
 
"India memiliki sistem kartu visa khusus bagi diaspora India agar leluasa keluar masuk negaranya dan mendapat perlakuan secara khusus dibanding warga asing," kata Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal pada "Lokakarya Nasional Diaspora Indonesia" di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta Pusat, Rabu.

Dino menyebut visa khusus ini membuat sekitar 30 juta orang India di luar negeri mudah menyumbangkan tenaga, pikiran, dan apa pun kepada negaranya.

Redenominasi Rupiah, Apa Artinya bagi Kita?

Rencana untuk menyederhanakan nilai nominal rupiah kembali bergema. Bersama bank sentral, pemerintah telah meniup peluit tanda dimulainya kampanye program ini pada 23 Januari 2013 lalu, di Hotel Borobudur, Jakarta.

Redenominasi Rupiah, Apa Artinya bagi Kita?

Penyederhanaan nominal alias redenominasi bukanlah isu baru. Tiga tahun lalu, pemerintah menggulirkan gagasan serupa, tapi kemudian melempem, setelah ditentang banyak kalangan, termasuk DPR. Namun, kali ini, rencana redenominasi agaknya berdering lebih nyaring. Selain meniup tanda dimulai sosialisasi, pemerintah juga akan segera mengajukan RUU Redenominasi kepada DPR. Setelah melalui masa transisi dan sosialisasi, diharapkan penyederhanaan nilai mata uang bisa dimulai tahun 2017 mendatang.

Persoalannya, apa arti redenominasi bagi ekonomi dan buat hidup kita sehari-hari?

Redenominasi adalah penyederhanaan nominal mata uang, tanpa mengubah nilai tukarnya. Demi kepraktisan, Bank Indonesia (BI) dan pemerintah akan membuang tiga nol terakhir dalam uang rupiah kita. Jadi, pecahan Rp 10.000 ungu bergambar Sultan Mahmud Badaruddin II yang kini beredar, misalnya, kelak akan ditarik, dan diganti pecahan baru dengan nominal Rp 10, tapi nilainya tetap sama. Jika uang ungu bergambar Sultan Mahmud bisa dipakai untuk membeli semangkok bakso, pecahan Rp 10 penggantinya kelak, juga dapat membeli bakso yang sama.

Jadi jelas, seperti kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo, redenominasi bukanlah sanering atau pemotongan nilai uang. Nilainya tidak dipotong, yang diringkas hanya cara penulisan nominalnya saja. Singkatnya, tampilannya saja yang diubah.

Lalu kenapa tampilan itu harus diubah?  Menurut Menteri Agus Martowardojo, redenominasi perlu dilakukan karena pecahan uang rupiah kita saat ini jumlah digitnya terlalu banyak, sehingga bisa menyebabkan inefisiensi. Nominal uang rupiah kita saat ini, tidak praktis.

Dalam proses input dan pelaporan data, misalnya, jumlah digit yang terlalu banyak akan merepotkan dan mengundang kesalahan. Mengetik ”Rp 10”, misalnya, tentu lebih ringkas dan lebih cepat ketimbang mengetik ”Rp 10.000”. Jika yang diketik hanya satu atau 10 data, selisihnya mungkin tidak kentara, tapi bagaimana jika ada jutaan atau miliaran entry data yang harus di-input?


Lebih Efisien

Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution memberi gambaran kerepotan tersebut dalam angka-angka yang lebih jelas. Menurut Darmin, nilai transaksi antarbank yang direkam bank sentral, setiap  hari kini telah mencapai Rp 404 triliun. Ini melonjak hampir tiga kali lipat dari tahun 2009. ”Tiga tahun naik tiga kali lipat, bagaimana lima tahun ke depan? Itu cuma transaksi sehari, lalu berapa jumlahnya dalam setahun? Bayangkan, betapa banyak jumlah digit 0 yang ada di pencatatan di Bank Indonesia,” kata Darmin dalam acara sosialisasi redenominasi.

Itu sebabnya, Darmin menegaskan pentingnya penyederhanaan nilai nominal agar transaksi, pencatatan, dan pelaporan lebih efisien. “Dengan redenominasi, jumlah digit rupiah lebih sederhana. Penyelesaian dan pencatatan transaksi lebih singkat dan biayanya lebih murah,” katanya.

Darmin menambahkan, redenominasi penting untuk penyederhanaan pembukuan. Penulisan nilai barang dan jasa akan lebih ringkas dan sederhana, begitu juga penulisan uang. Ini akan menyederhanakan sistem akuntansi dalam sistem pembayaran.

Jumlah digit yang kebanyakan juga merumitkan penghitungan, sehingga berpotensi menimbulkan kekeliruan, juga makan waktu. Dalam sistem transaksi nontunai, misalnya, jumlah digit yang kepanjangan bisa melampaui jumlah digit yang ditoleransi oleh infrastruktur sistem pembayaran dan sistem pencatatan.

Pengamat pasar modal dan pasar uang, Budi Frensidy, punya gambaran lebih gamblang. Angka-angka agregat ekonomi kita ditulis dalam satuan angka yang begitu besar. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dana pihak ketiga di perbankan, atau kapitalisasi pasar saham, misalnya, sudah ribuan triliun. Ini angka yang besar sekali, sulit dibayangkan.

Kelak, dengan perekonomian yang terus tumbuh, angka-angka ini terus membengkak menjadi ratusan ribu triliun atau jutaan triliun, sehingga kian sulit dibayangkan betapa banyak deretan nol di belakang satuan ini. Angka-angka itu juga sering kali sulit diproses oleh kalkulator finansial yang lazimnya hanya memuat 10 digit alias hanya untuk satuan belasan miliar saja. Nah, redenominasi akan menyederhanakan atau meringkas deretan panjang ini.

Agar masyarakat tidak bingung, pemerintah berjanji untuk melakukan penyederhanaan ini secara bertahap, bukan sekaligus. Jadi, pecahan Rp 10.000 tadi, misalnya, akan beredar mendampingi pecahan Rp 10 uang baru. Secara bertahap uang ungu ditarik dan pelan-pelan, digantikan uang baru. Proses ini akan berlangsung selama empat sampai enam tahun.(Berita Satu)

Penulis: Dwi Setyo Irawanto/AB

Minggu, 24 Februari 2013

Dr. Rihab Taha, Kisah Wanita Pembuat Virus Berbahaya di Dunia

Banyak ilmuwan yang menggunakan kemampuannya untuk memajukan ilmu pengetahuan, tetapi terkadang ada juga beberapa ilmuwan yang menggunakannnya untuk tujuan lain. Mungkin banyak yang sudah pernah mendengar nama Dr. Rihab Taha, karena reputasinya sebagai salah satu dari wanita yang paling berbahaya di dunia.

Dr. Rihab Taha lahir di Irak pada tahun 1957. Tidak ada informasi mengenai tanggal lahirnya, mungkin sengaja dirahasiakan. Ia merupakan lulusan dari University of Baghdad dan memperoleh gelar Ph.D dari University of East Anglia dalam bidang racun tanaman di Norwich, Inggris.



Dia mempublikasikan dua artikelnya yang berjudul Contribution of tabtoxin to the pathogenicity of Pseudomonas syringae pv. tabac dan Effect of tabtoxin on nitrogen metabolism pada tahun 1986. Dua artikel tersebut ditulis Rihab dengan pengawasnya yang bernama profesor John Turner.

Bocah Ajaib dari Surabaya ke Makkah dengan karpet terbang

Banyak orang percaya kesaktian seseorang diperoleh dengan cara belajar dan garis keturunan. Arif (16), warga Taman, Sepanjang, Sidoarjo, Jawa Timur, sejak kecil dikenal warga sekitar sebagai bocah ajaib.

Bocah Ajaib dari Surabaya ke Makkah dengan karpet terbang
 

Warga percaya Arif memiliki kesaktian sejak lahir ke dunia. Konon kesaktian Arif diperoleh karena sang ayah, Ismail, saat Arif masih berada di kandungan ibunya, kerap puasa mutih (tak makan nasi) dan membaca doa selama 40 hari sepanjang siang dan malam.

Tak hanya itu, warga juga percaya Arif dihampiri cahaya dari langit saat baru dilahirkan. "Itupun yang diceritakan orang-orang, saya sendiri tidak tahu," kata ayah Arif yang biasa disapa Mail, Minggu (17/2).

Wow, Jepang memiliki kuil 'Dewi Payudara'!

Di Jepang, wisatawan bisa menemukan sebuah kuil unik yang didedikasikan untuk payudara wanita. Ini mungkin terdengar lucu. Tetapi bagi warga Jepang sendiri, kuil ini merupakan tempat yang benar-benar suci.



Berlokasi di Soja, prefektur Okayama, Kuil Karube dibangun untuk menghormati Chichigamisama, Dewi Payudara. Sebagaimana dilansir rocketnews24.com, Chichigamisama dipercaya telah membantu kelahiran anak dengan aman, memproduksi ASI dan bahkan menyembuhkan kanker payudara.

Dibangun pada tahun 1678, kuil ini menjadi terkenal di Jepang karena suatu ketika beberapa warga yang tinggal di sekitar kuil menemukan sebuah pohon ceri yang ditanam di dekat kuil menangis.


Tania Gunadi, mojang Bandung penakluk Hollywood

Muda, cantik, dan berbakat, mungkin kriteria seperti itu pantas disematkan kepada Tania Gunadi. Mojang Bandung yang lahir pada 29 Juli 1983 ini justru lebih dikenal di Amerika Serikat. Iya, ini lantaran Tania sudah hampir sepuluh tahun berkiprah di industri perfilman Hollywood.


Saat usianya masih terbilang belia, Tania memenangkan lotre 'green card' yang memberi kesempatan buat dia menetap di Amerika Serikat 12 tahun lalu. Dia kemudian pindah Ke Kota Los Angeles hanya dengan berbekal uang Rp 1,9 juta di sakunya, seperti dilansir situs taniagunadi.com.

Gadis berwajah oriental ini mulanya terlibat iklan untuk Disney Channel. Namun, keikutsertaan dia di pariwara itu justru membuatnya jatuh cita dengan dunia seni peran. Alhasil, Tania remaja bermimpi bahwa dirinya kelak akan menjadi seorang bintang, meski dia tahu hal itu butuh kerja keras.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Topik Populer Bulan ini