add

5 Posting Terbaru

Kamis, 23 Juli 2009

Teknologi dalam Penanggulangan Terorisme


Peranan teknologi dalam penangkalan dan pemberantasan terorisme telah disinggung oleh Makmur Keliat, pakar ilmu hubungan internasional, di harian ini, Selasa (21/7).

Ada dua hal yang dapat digarisbawahi dari artikel tersebut. Pertama, apa yang dikutip dari Paul Bracken bahwa ”cara terbaik untuk mengalahkan teroris adalah dengan menembus sel-selnya”. Yang kedua, ketidakmampuan dinas intelijen Indonesia mencegah kejutan strategis teroris, dalam hal ini dikaitkan dengan ketidakmampuan mendapatkan informasi, yang bisa jadi terkait dengan keterbatasan teknologi.


Makmur menegaskan, teknologi—pada sisi lain—bukan segala-galanya. AS yang memiliki teknologi canggih pun kewalahan menghadapi teroris. Itulah yang terjadi, dengan kecanggihan teknologi yang dimilikinya, upaya untuk menangkap Osama bin Laden sejauh ini tak membuahkan hasil dan pada masa lalu tidak kuasa mencegah serangan 11 September 2001. Terorisme juga pernah mengguncang negara maju seperti Inggris dan Spanyol.

Satu hal yang sulit disangkal, pascaterjadinya serangan teroris, negara-negara maju lalu menerapkan kebijakan dan sistem yang efektif sehingga, misalnya, setelah serangan 11 September tidak lagi terjadi serangan teror di AS, demikian pula di Inggris dan Spanyol. Ini berbeda dengan Indonesia, yang setelah terjadi bom Bali I masih ada bom Bali II, dan setelah Marriott I ada Marriott II, plus Kedubes Australia dan lainnya.

Seperti disebut dalam situs BomDetection, melawan terorisme dibutuhkan perencanaan strategis, integrasi teknologi, pelatihan terstruktur, adanya kebijakan dan prosedur yang berkembang (mengikuti kebutuhan keamanan), juga strategi kolektif dengan badan-badan pemerintah, kontraktor pertahanan, integrator sistem, dan tempat-tempat (yang mungkin sasaran teror).

BomDetection adalah sekadar contoh bisnis yang berkembang seiring dengan merebaknya aktivitas teror di berbagai penjuru dunia. Bergerak di bawah bendera AI (American Innovation), usaha ini menawarkan kemitraan untuk bermacam-macam upaya penanggulangan terorisme. Keahlian yang ditawarkan meliputi penangkalan serangan kimia, biologi, radiologi, nuklir, dan bahan peledak (konvensional).

Aneka deteksi dan inspeksi

Sebagaimana disaksikan penonton TV, teknologi yang banyak dimanfaatkan sebagai sarana prevensi adalah teknologi kamera video, yang terus meningkat resolusinya. Resolusi yang lebih baik diharapkan bisa lebih memperjelas orang-orang yang dicurigai. Dari tayangan TV Indonesia memang tampak ketajaman citra video masih kurang. Berikutnya, teknologi yang telah banyak digunakan adalah sistem inspeksi sinar-X, baik untuk skrining maupun untuk imaging, apakah untuk surat, paket, dan bahkan kargo.

Satu perlengkapan lain yang semestinya semakin banyak dipasang adalah explosives detection chemistry (EDC) dan explosives trace detectors (ETD). Inilah alat yang sebenarnya semakin vital karena bahan peledak sejauh ini merupakan senjata pilihan bagi teroris. Tantangan bagi petugas keamanan bisa dikatakan ada di sini. Ini pula tantangan bagi badan atau perusahaan yang menawarkan jasa penanggulangan terorisme. Di satu sisi bahan peledaknya makin canggih, di sisi detektornya, demikian pula keahlian untuk mendeteksinya, memiliki keterbatasan.

Penyedia jasa penanggulangan terorisme, dengan demikian, sangat tertantang untuk menciptakan alat deteksi yang mudah digunakan, bahkan oleh mereka yang sebelumnya tidak berpengalaman mendeteksi bahan peledak, sementara alat deteksi baru ini akan mampu mendeteksi bahan peledak jenis apa pun, tentunya termasuk jenis yang berdaya ledak tinggi, seperti C4, TNT, dan PETN.

Sistem deteksi jejak bahan peledak kreasi AI yang dikenal dengan nama XD-2i menggunakan ilmu kimia analitik khusus untuk mendeteksi bahan peledak. ETD bisa dengan cepat dan andal mendeteksi bahan peledak komersial, militer, dan buatan rumahan, seperti bahan peledak cair, serbuk hitam, nitroselulosa, bubuk senapan tanpa asap, ANFO, nitrat, nitro-aromatik, bahan peledak plastik, peroksida, klorat, dan lainnya.

Di luar alat

Seperti juga disinggung dosen filsafat politik Armada Riyanto, dalam tulisannya di harian ini kemarin, Erich From telah mengingatkan bahwa teror merupakan produk tindakan sistematis. Ada rancangan, kepastian metodologi, target, sistem perekrutan, pelatihan, organisasi, dan tentu ideologi.

Karena itu pula, langkah untuk menghadapinya pun tidak bisa dengan langkah setengah-setengah, apalagi asal-asalan. Dengan pengalaman tragis beberapa kali di Tanah Air, tampak jelas bahwa selain alat/sarananya tidak memadai, konsepnya pun tampaknya perlu dirombak total.

Di ujung depan, seperti dikemukakan Makmur Keliat, pastilah dibutuhkan penyegaran struktur dan kerja intelijen. Seperti dikemukakan pengamat militer F Djoko Poerwoko, saat ini di Indonesia hanya ada satu badan intelijen strategis, yakni Badan Intelijen Negara. Di Australia ada lima, yakni Office of National Assessments (ONA), Australian Secret Intelligence Service (ASIS), Australian Security Intelligence Organisation (ASIO), Defence Intelligence Organisation (DIO), dan Defense Signal Intelligence (DSI) (Angkasa, Edisi Koleksi, ”Menguak Tabir Operasi Intelijen dan Spionase”, 2009).

Tentu Australia ingin menjalankan operasi intelijen secara tajam, spesifik. Negara yang dihadapkan pada tantangan intelijen akut seperti Indonesia jelas membutuhkan dukungan operasi dinas intelijen yang canggih.

David Owen dalam bukunya, Hidden Secrets: A Complete History of Espionage, and the Technology Used to Support It (2002), menjelaskan sejumlah istilah yang relevan dengan urusan kita hari-hari ini, yakni HUMINT (human intelligence) untuk pengintaian manusia, SIGINT (signal intelligence) yang terkait penguraian pesan dan analisis trafik, ELINT (electronic intelligence) yang melibatkan sensor jarak jauh dan pengintaian satelit. Tidak kalah seru false intelligence, yang di dalamnya ada upaya-upaya pengelabuan, misinformasi, dan agen ganda.

Semua negara kini makin menempatkan intelijen sebagai prioritas, menyusun rencana agar intelijen lebih cerdas. AS melakukan ini karena setiap saat harus menghadapi lawan-lawan baru yang dilengkapi senjata yang makin mengerikan, kemampuan komunikasi dan koordinasi makin maju dan andal. Semua itu membuat AS harus mengubah cara mengumpulkan dan menganalisis intelijen, dan menerjemahkannya dalam kebijakan.

Ketika ada momentum bom di Ritz-Carlton dan Marriott, bukan hanya AS yang harus melakukan langkah di atas. Ini juga saatnya bagi Indonesia meng-overhaul dinas intelijennya, baik struktur, operasi, maupun teknologi yang diterapkannya.

Sumber : Kompas.com

600 Peneliti Pilih Bekerja di Luar Negeri


BANDUNG, KOMPAS.com-Sekitar 600 ilmuwan potensial Indonesia saat ini memilih bekerja di perguruan tinggi dan lembaga riset asing di luar negeri.

Di luar negeri para ilmuwan penerima beasiswa program doktor ini umumnya tampil berprestasi.


”Mereka ini ialah orang-orang Indonesia, dulunya para dosen yang menerima beasiswa program doktor, tetapi lantas memilih tetap bekerja di luar,” ujar Direktur Kelembagaan Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Hendarman di sela-sela peluncuran kelas internasional Institut Manajemen Telkom, Sabtu (11/7) di Bandung, Jawa Barat.

Para ilmuwan ini tersebar di berbagai negara. Namun, kebanyakan berada di Jepang dan Jerman. Ia mencontohkan, Khoirul Anwar, alumnus Elektro Institut Teknologi Bandung dan pemilik paten sistem telekomunikasi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) adalah seorang WNI yang kini bekerja di Nara Institute of Science and Technology, Jepang.

”Ada juga ilmuwan kita di luar yang berhasil memiliki hingga 10 paten. Indonesia juga punya salah satu profesor paling muda asal Medan yang kini bekerja di Amerika Serikat dan ia mendapatkan dana penelitian yang sangat besar. Ilmuwan kita sesungguhnya hebat-hebat,” kata Hendarman.

Menurutnya, negara tidak bisa menyalahkan mereka yang memilih bekerja di luar negeri demi mengembangkan kariernya. ”Ada banyak alasan mereka memilih ke luar. Bisa itu karena kebebasan akademiknya, fasilitas yang lebih canggih, ataupun demi alasan jaminan kesejahteraan,” ujarnya.

Di jurnal masih rendah

Di sisi lain, kontribusi peneliti di lembaga riset dan perguruan tinggi Indonesia dalam jurnal-jurnal internasional justru masih sangat rendah. Hanya 0,87 artikel ilmiah per sejuta penduduk Indonesia. Bandingkan dengan negara tetangga, Malaysia, yang sebesar 21,30 atau India yang mencapai 12,00.

”Untuk itu, ke depan, Pak Menteri dan Dirjen (Pendidikan Tinggi) meminta peneliti prominent yang ada di luar negeri juga melakukan riset bareng. Setidaknya, nama perguruan tinggi asal mereka turut ditulis di penelitian yang dikerjakan,” katanya. Ini penting untuk meningkatkan citations index di dalam rangka pemeringkatan universitas kelas dunia.

Secara terpisah, Wakil Rektor Senior Bidang Sumber Daya ITB, Carmadi Machub mengatakan, dari 1.020 dosen ITB, sekitar 5 persen di antaranya berperilaku kurang disiplin. Mereka jarang mengajar dan kerap mencari proyek tambahan di luar negeri.

”Ini sempat dipersoalkan dan diusulkan agar mereka ini diberhentikan sebagai pegawai negeri sipil. Ada yang izin pergi ke luar (negeri), tetapi tidak kembali,” ujarnya. Diakuinya, dosen-dosen semacam ini sulit ditindak.

Namun, ia meyakini, perilaku dosen seperti ini akan semakin berkurang seiring adanya program sertifikasi dosen yang bisa berimplikasi pada tambahan tunjangan profesi satu kali gaji pokok. Bahkan, khusus guru besar, tunjangannya itu bisa mencapai tiga kali lipat.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Topik Populer Bulan ini