5 Posting Terbaru

Rabu, 28 Maret 2012

Abu Galunggung Ternyata Bikin Mogok Pesawat Jumbo

Letusan Gunung Galunggung selama sembilan bulan sejak 5 April 1982 menyemburkan abu vulkanik dahsyat. Hujan abu mengelapkan Kota Tasikmalaya, Bandung, Bogor, hingga Jakarta. Bahkan, lontaran abu itu mematikan mesin-mesin pesawat jumbo yang sedang melintas di dekat Galunggung.

Geolog dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Akhmad Zaenuddin, mengungkapkan, Galunggung memulai aksinya dengan menghancurkan kubah lava Gunung Jadi di dalam kawah Gunung Galunggung. Penghancuran itu meluahkan awan panas, lontaran batu, hujan batu dan abu, serta semburan gas.

Fase penghancuran sisa kubah berikutnya disertai letusan tegak tipe vulkano yang menghasilkan jatuhan awan panas, lontaran batu, dan hujan pasir. Tinggi tiang asap letusan pada 13-19 Juli 1982 mencapai 35 kilometer.


Pada tahap ini pula, tepatnya pada 24 Juni 1982, pesawat Boeing 747 British Airways mendarat darurat di Bandar Udara Halim Perdanakusuma karena kerusakan mesin. Selama dua malam, pesawat itu menginap di Halim.

Pesawat yang mengangkut 225 penumpang itu sedang dalam perjalanan Kuala Lumpur-Perth dari London. Di ketinggian 9.450 meter, sekitar 500 mil dari pantai selatan Garut, mendadak empat mesin mati akibat mengisap abu Galunggung (Kompas, 27 Juni 1982). Captain Moodey berhasil menghidupkan dua di antara mesin jet itu dan mendarat darurat di Halim.

Tak hanya sekali itu abu Galunggung mengganggu penerbangan. Pesawat jumbo Boeing 747 Singapore Airlines nomor penerbangan 21A dari Singapura menuju Sydney dan Melbourne terpaksa juga mendarat di Halim Perdanakusuma karena debu vulkanik Galunggung pada Selasa 13 Juli 1982 (Kompas, 15 Juli 1982). Dua mesin pesawat raksasa itu terpaksa dimatikan di ketinggian 33.000 kaki atau sekitar 11 kilometer.

Thomas J Casadevall dalam makalahnya, Volcanic Ash and Airports, menuliskan, abu vulkanik terdiri atas batuan halus, mineral, dan partikel padat berdiameter kurang dari 2 milimeter. Bahkan, diameter abu halus hanya 0,063 milimeter. Ukuran material itu mengecil jika semakin jauh jarak lontarannya dari gunung api.

Material fisik abu gunung api inilah yang berbahaya bagi penerbangan. Ukurannya yang kecil, kekerasannya, kemampuannya mengamplas, dan keasamannya merusak mesin pesawat.

Saat pemeriksaan pesawat Singapore Airlines yang menjadi korban abu itu, di baling-baling mesin nomor dua ditemukan garis memutih jejak pengamplasan abu vulkanik.
Abu vulkanik yang disemburkan gunung api juga dapat membawa aliran listrik statis. Di bandara, tebaran abu vulkanik menyebabkan jalan pesawat menyim- pang dan mengganggu sistem listrik.(Tim Penulis: Indira Permanasari, Ahmad Arif, Hermas Efendi Prabowo, Mukhamad Kurniawan.Fotografer: Yuniadhi Agung, Rony Ariyanto Nugroho. Litbang: Slamet J Prihatin)

Sumber : Kompas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Topik Populer Bulan ini