








sumber: http://feedproxy.google.com/~r/wahw33d/~3/yOtsX3ZcxFo/sisi-lain-model-model-cover-majalah.html
Blog ini menyajikan berita terhangat baik dari dalam negeri maupun dali luar negeri.










Ilustrasi pesawat tempur KF-X buatan KAI.
JAKARTA - Masih dalam suasana peringatan hari jadi ke-65 TNI, maka satu tema yang masih terus bergema adalah pengembangan kemampuan industri pertahanan nasional. Bukan saja sekarang sudah ada Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), melainkan juga karena sekarang penguatan industri pertahanan dalam negeri telah diangkat sebagai wacana pendamping penguatan postur angkatan bersenjata RI.
Dua hal setidaknya bisa menjelaskan hal di atas. Pertama, ketika menjalani uji kelayakan dan kepatutan untuk menjadi Panglima TNI di DPR, Laksamana Agus Suhartono mendapat pesan bahwa terkait dengan pembangunan postur TNI, hal itu dilaksanakan dengan mempertimbangkan sungguh-sungguh pelibatan industri pertahanan dalam negeri. Berikutnya, sehari menjelang HUT ke-65 TNI, Presiden ketika memimpin sidang kabinet yang khusus membahas alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI menegaskan bahwa upaya modernisasi alutsista disertai komitmen mengutamakan produk industri strategis dalam negeri, kecuali yang belum bisa kita buat, seperti pesawat tempur, kapal perang, atau kendaraan tempur canggih (Kompas, 5/10).
Belum lama ini terbetik kabar bahwa bersama Korea Selatan, RI akan mengembangkan pesawat tempur KFX yang disebut lebih canggih dibandingkan F-16, tetapi masih di bawah kemampuan F-35 JSF Lightning II. Namun, seiring dengan itu, terbetik pula kabar bahwa Indonesia akan merancang kapal selam. Tidak kurang Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro sendiri yang mengemukakan hal ini di sela-sela seminar di LIPI yang dikutip di awal kolom ini.
Merentang rancang bangun
Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin yang mengunjungi PT DI, PT Pindad, dan PT PAL tentu diyakinkan bahwa dari segi kemampuan, tak ada yang diragukan dari putra-putra bangsa Indonesia untuk menguasai rancang bangun alutsista. Di matra udara, setelah membuktikan diri bisa membuat pesawat secanggih N-250 pada pertengahan dekade silam, masuk akal kalau program seperti KFX bisa merentang kemampuan lebih lanjut. Hal sama bisa dikatakan untuk PT Pindad, yang setelah menguasai rancang bangun kendaraan tempur dan membedah tank ringan Scorpion, lalu dalam posisi untuk merancang bangun pembuatan tank sekelas AMX.
Untuk matra laut, wacana bisa direntang lebih luas. Membaca buku Kapal Selam Indonesia (karya Indroyono Soesilo dan Budiman, 2008), pembaca tidak saja disuguhi sejarah kapal selam dan pengoperasiannya di Indonesia, lengkap dengan komandan dan awak yang pernah bertugas di kapal-kapal selam tersebut, tetapi juga segi lain yang berlingkup masa depan.
Di masa ketika isu perbatasan, khususnya perbatasan di laut, semakin sering mewarnai hubungan Indonesia dan negara tetangga, khususnya Malaysia, salah satu alutsista yang lalu sering dirasakan urgensinya adalah kapal selam. Bila kapal permukaan seperti korvet atau fregat melambangkan kehadiran, tetapi mudah disimpulkan kekuatannya, kapal selam lebih bermakna strategis karena memiliki daya penggentaran yang besar. Eksistensi yang nyata, tapi relatif sulit dilacak, membuatnya semakin dihargai oleh banyak negara. Setelah Singapura (4 Challenger dan 2 Archer yang merupakan kelas Vastergotland, Swedia), Malaysia pun kini sudah membeli dua kapal dari kelas Scorpene (buatan Perancis) (lihat The Military Balance 2010, IISS, 2010).
Kini Indonesia hanya mengoperasikan dua kapal selam–Cakra dan Nanggala–yang usianya hampir 30 tahun. Kapal selam tipe 209 buatan HDW Jerman ini sejak beberapa tahun terakhir disebut-sebut akan dicarikan penggantinya.
Kapal selam kelas 209 buatan DSME Korea, Changbogo
Ada wacana untuk melanjutkan apa yang sudah dimulai dengan kapal selam tipe 209, yang artinya tetap menggunakan buatan Jerman. Lalu yang terakhir muncul tawaran dari Pemerintah Korea, yang juga telah menguasai teknologi tipe 209 (dengan nama Changbogo).
Membuat kapal selam
Pembuatan kapal selam menjadi satu dari dua bahasan yang muncul ketika Sekretaris KKIP Sjafrie Sjamsoeddin berkunjung ke PT PAL. Selain kapal selam, topik lain adalah pembuatan kapal perusak kawal rudal.
Tentu dibutuhkan nasionalisme dan rasa percaya diri untuk bisa membuat kapal selam. Selama ini di PT PAL telah dibuat kapal berbagai jenis dan berbagai ukuran, dan membuat kapal selam dipastikan akan menuntut dimilikinya keterampilan teknis dan pemahaman akan rekayasa yang canggih.
Keinginan menguasai teknologi pembuatan kapal selam juga dibaca oleh pembuat kapal selam asing yang ingin menawarkan produknya ke Indonesia. Thyssen yang kini sudah menjadi perusahaan induk HDW pun dalam menawarkan tipe 209/1400 ini juga menawarkan alih teknologi kepada Indonesia, dalam hal ini PT PAL.
Sebagaimana juga ada di PT DI untuk pesawat terbang, di PT PAL pun kelak akan ada fasilitas pembuatan badan serta instalasi berbagai sistem yang ada pada kapal selam, seperti propulsi dan sebagainya. Keterampilan tersebut bisa diperoleh secara bertahap. Itu sebabnya, pada kapal selam pertama, sebagian besar pekerjaan (perakitan badan tekan dan instalasi outfitting tingkat tinggi) akan tetap dilakukan oleh mitra pembuat, dan PT PAL hanya akan mengerjakan integrasi dan penyelesaian keseluruhan kapal. Namun, untuk kapal kedua dan ketiga, bagian yang akan dikerjakan oleh teknisi Indonesia akan lebih banyak.
Diharapkan dengan proses alih teknologi yang konsisten, yang mengucur dari adanya program yang terjadwal rapi, pengerjaan dua kapal selam dengan alih teknologi bisa dikerjakan dalam tempo enam tahun.
Melalui program seperti itu, RI tidak saja akan menguasai pembuatan kapal selam, tetapi juga alutsista lain yang semakin kompleks.
Bila komitmen mendukung pengembangan kemampuan dalam negeri ingin diwujudkan, kapal selam jelas akan menjadi proyek lompatan kuantum yang besar artinya.
Sumber : http://alutsista.blogspot.com/
JAKARTA, KOMPAS.com — Keterbatasan Jakarta mendapatkan air baku untuk diolah menjadi air bersih sebenarnya bisa diatasi dengan memanfaatkan air laut yang melimpah. PT Pembangunan Jaya Ancol bukan cuma mengolah air laut menjadi air tawar, melainkan juga mengolahnya menjadi kolam apung berkadar garam tinggi. Inovasi yang dilakukan, antara lain, 7.000 meter kubik air laut diubah menjadi 5.000 meter kubik air tawar per hari. Sisanya, sekitar 2.000 meter kubik, menjadi air berkadar garam tinggi yang digunakan untuk kolam apung, salah satu wahana wisata di Ancol Taman Impian.
”Teknologi desalinasi ini menjadi inovasi untuk tidak semata-mata meraih hasil air minum dari sumber air laut tak terbatas,” kata Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya.
Kolam apung merupakan manfaat wisata edukatif lain, di samping perolehan air tawar dari proyek Ancol Newater-Sea Water Desalination Plant. Bambang Tutuko selaku Wakil Direktur Arkonin yang menjadi konsultan proyek ini, Selasa (28/9/2010), menguraikan, desain rancang bangunnya bisa untuk memproduksi sampai kapasitas 15.000 meter kubik per hari.
”Desainnya sudah selesai dirancang dan konstruksinya sekarang masih dikerjakan. Akhir tahun ini bisa selesai,” kata Bambang.
Osmosis terbalik
Reverse osmosis atau osmosis terbalik merupakan proses yang ditempuh secara umum untuk mengubah air laut menjadi air tawar. Caranya dengan mendesakkan air laut melewati membran-membran semipermeable untuk menyaring kandungan garamnya. Kandungan garam yang tersaring disisihkan. Sebagian air laut digunakan untuk melarutkannya.
Larutan itulah yang kemudian menjadi bagian dari 2.000 meter kubik per hari yang kemudian disalurkan ke Kolam Apung Wahana Atlantis Ancol.
Dalam kandungan garam tinggi, air kolam itu mampu mengapungkan manusia. Namun, untuk menikmati kolam apung ini, ada beberapa ketentuan yang diberlakukan untuk menunjang keselamatan dan kesehatan.
”Reverse osmosis atau RO ini ditempuh setelah ada berbagai perlakuan terhadap sumber air bakunya,” kata Bambang.
Menurut Bambang, air baku itu diambil dari Danau Ancol. Danau Ancol dirancang untuk menampung pula air hujan ataupun limbah pemanfaatan air bersih yang digunakan berbagai fasilitas publik di kawasan wisata tersebut.
Pemasukan air hujan ataupun limbah pemanfaatan air bersih merupakan upaya untuk menurunkan kadar garam danau payau tersebut. Dengan demikian, diharapkan proses osmosis terbalik menjadi lebih ringan dengan air baku yang rendah kadar garamnya. ”Ini ada kaitannya dengan usia produktif dari teknologi desalinasi ini,” ujarnya.
Untuk menghasilkan air bersih dari air laut ini dibutuhkan energi listrik sebesar 4,72 kilowatt jam per meter kubik. ”Sekarang ini rata-rata listrik per kilowatt jam mencapai harga Rp 1.000,” ujar Bambang.
General Manager Perencanaan PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk Sandy Rudiana mengatakan, perusahaannya memiliki kebutuhan air tawar sebanyak 15.000 meter kubik per hari. Saat ini belum bisa terpenuhi seluruh kebutuhannya.
”Dari perusahaan air minum daerah hanya diperoleh 9.000 meter kubik per hari sehingga masih kekurangan 6.000 meter kubik per hari,” kata Sandy.
Selain faktor kekurangan suplai air bersih, menurut Sandy, juga ditemui kendala harga yang terlampau tinggi. Produksi air bersih dari proses desalinasi bisa bersaing dengan tarif air bersih kelas komersial yang mencapai Rp 12.500 per meter kubik. Bahkan, tarif air bersih industri mencapai Rp 15.000 per meter kubik.
Nilai produksi air bersih dengan teknologi desalinasi yang dikembangkan sekarang mampu menekan harga hingga Rp 9.000 per meter kubik.
Pengembangan model
YJ Harwanto, selaku General Manager Ancol Taman Impian PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, mengatakan, proyek desalinasi ini sebagai pengembangan model tatkala ada tuntutan penghentian pengambilan air tanah di Jakarta, terutama di kawasan pesisir Jakarta Utara.
”Model seperti ini harus dikembangkan oleh pihak-pihak lainnya,” kata Harwanto.
Dia mengatakan, perusahaannya tidak pernah mengambil air tanah untuk mencukupi kebutuhan. Namun, mereka menerima imbas paling parah berupa penurunan tanah paling cepat di Jakarta. Saat ini diperkirakan kawasan Ancol mengalami penurunan tanah 26 sentimeter per tahun.
Seperti lokasi kuburan yang dipelihara Pemerintah Belanda di dalam kawasan wisata Ancol, sejak belasan tahun yang lalu masih 1 meter sampai 2 meter di atas permukaan laut. Namun, sekarang sudah berada di bawah permukaan air laut sehingga diperlukan pemompaan air ketika tergenang air laut.
Pengurukan, menurut Harwanto, dilakukan setiap tahun. Lokasi-lokasi yang tidak diuruk pada akhirnya mudah tergenang air hujan atau luapan air laut pasang.
Desalinasi sebagai jawaban teknologi atas tuntutan penghentian pengambilan air tanah di Jakarta. Pengelola kawasan wisata Ancol sudah memulainya. Ditunggu yang lainnya.Segerombolan pria bersenjata terlihat tenang menyambangi Bank CIMB Niaga di Jalan Aksara 56, Medan. Turun dari sepeda motor, puluhan orang itu merangsek masuk. Kamera pengintai di ruang lantai satu pun merekam adegan ini: anggota Brigade Mobil Kepolisian Daerah Sumatera Utara, Brigadir Imanuel Simanjuntak, ditembak, dor, dor, dor..., peluru menembus dada Imanuel, yang tewas seketika.
Tiga pelaku lalu melompati meja kasir dan mengobrak abriknya, seperti mencari barang berharga. Beberapa laci dibuka, isinya pun diambil. Para penjahat itu menodong seorang pria bertubuh gemuk berkemeja putih, minta ditunjukkan tempat penyimpanan uang. Dua pelaku lainnya berjaga di pintu masuk, memegang senjata laras panjang. Beberapa menit berselang, pelaku kabur, menggasak uang dalam brankas Rp 600 juta.
Bukan sekali itu saja kamera pengintai atau closed circuit television (CCTV) merekam aksi kejahatan. Serangkaian aksi pengeboman juga tak luput dari lensa kamera pengintai. Misalnya detik detik menjelang ledakan bom di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton, Jakarta, tahun lalu. Seorang pelaku dengan tas serba hitam di punggung dan tangannya terekam masuk salah satu restoran hotel. Dan, bummm....
Kehadiran kamera pengintai menjadi penting, khususnya bagi polisi, dalam usaha mengungkap kasus kejahatan. Hari hari ini, keberadaan kamera peng-intai sudah lazim di berbagai tempat umum dan privat. Perumahan, pertokoan, hotel, pusat belanja dan keramaian, kantor swasta, sampai instansi pemerintah memasangnya sebagai bagian dari standar pengamanan. Pemerintah Kota Batam bahkan mengeluarkan peraturan daerah tentang sistem keamanan melalui kamera pengaman di obyek vital.
Meski dengan begitu akan banyak aksi kejahatan yang terekam, tak ada satu pun kamera pengintai yang mampu memberikan peringatan dini tanda terjadinya kejahatan. Inilah yang mengilhami tiga mahasiswa Teknik Informatika Bina Nusantara, yakni Felix Jingga, Jeffrey Wijaya, dan Ricky Winata, mengembangkan aplikasi kamera pengintai cerdas yang dinamai Jabbing atau Object Labeling and Timing.
"Jabbing mampu mengenali obyek secara otomatis," kata Felix, mahasiswa ang-katan 2008, pekan lalu. Menurut dia, Jab-bing memungkinkan kamera peng-awas memberikan tanda serupa alarm jika ada benda mencurigakan. Jabbing ter-pilih mewakili Indonesia di lomba Asia Pacific ICT Award (APICTA) 2010 pada 12 16 Oktober di Kuala Lumpur, Malaysia.
Felix mengaku tak semua obyek bisa dikenali Jabbing. "Khusus obyek diam saja," katanya. Teknologi Jabbing memungkinkan kamera pengintai mendeteksi, melakukan klasifikasi, dan menghitung lama obyek statis dalam jangkauan kamera pengawas. Alhasil, petugas pengamanan tak perlu memelototi puluhan layar monitor untuk mengetahui obyek yang dianggap mencurigakan. "Alarm otomatis berbunyi jika benda tidak bergerak dalam jangka waktu yang lama," kata Ricky.
Ketika alarm berbunyi, Ricky menjelaskan, petugas pengawas bisa dengan cepat mengetahui keberadaan obyek mencurigakan itu. Obyek bisa saja benda yang tertinggal, narkotik, orang duduk atau tertidur lama, bahkan benda berbahaya yang disinyalir sebagai bom. Dengan mengetahui secara dini benda benda itu, kejadian yang tidak diinginkan bisa dihindari.
Mengawasi kamera pengintai merupakan pekerjaan yang melelahkan. Satu gedung biasanya memiliki 10 atau lebih kamera yang harus diawasi selama 24 jam. "Pekerjaan mengawasi banyak kamera terus menerus itu sulit dilakukan," ujar Jeffrey, 22 tahun.
Syah Imrom, petugas keamanan Stasiun Gambir, mengakui hal itu. "Tak mungkin CCTV diawasi 24 jam," katanya. Berdasarkan pengalaman Imrom bekerja di pusat belanja dan tempat tempat vital, pengawas kamera hanya sesekali melihat layar monitor yang menampilkan puluhan gambar dari kamera pengintai. "Rekaman kamera lazim dilihat kembali jika ada kejadian atau kejahatan," kata pria yang sudah bekerja sebagai anggota satpam lebih dari sepuluh tahun ini.
Jabbing, karena itu, bisa membantu mempermudah pengawasan. Tapi bagaimana aplikasi ini mengenali obyek secara otomatis? Felix, Jeffrey, dan Ricky menunjukkannya. Sebuah kamera IP (Internet protocol) dipasang di sudut kamar rumah Felix di bilangan Mangga Dua, Jakarta. Awalnya, semua benda diam yang terjangkau kamera dianggap sebagai latar, sehingga tak diperhitungkan meski teronggok lama. Selanjutnya diatur berapa lama benda (selain latar) dianggap obyek baru dan mencurigakan. Tujuannya agar Jabbing mengirim sinyal berupa alarm kepada petugas pengawas bila melewati waktu yang ditentukan. "Waktu diatur menurut kebutuhan," kata Felix.
Pengaturannya sederhana. Cukup dilakukan di komputer jinjing Felix. Dia pun menentukan benda diam yang dianggap mencurigakan selama 40 detik. Felix dan Ricky bergantian menyimpan tas hitam dalam jangkauan kamera pengintai. Kehadiran dua obyek baru yang ditangkap kamera itu otomatis diberi label sekaligus waktunya. Memasuki detik ke 30, Ricky mengambil tas yang disimpannya. Memasuki detik ke 40, kamera seakan berbicara: alarm berbunyi nyaring. Ternyata bunyi itu sebagai pertanda tas yang disimpan Felix telah melewati waktu yang dianggap mencurigakan.
Tidak butuh waktu lama bagi tiga serangkai ini untuk mengembangkan program Jabbing. "Sekitar tiga bulan," kata Felix, yang memulai proyek Jabbing pada April lalu.
Ide pembuatan Jabbing muncul dari diskusi ringan di antara mereka bertiga. Agar lebih sempurna, Jeffrey, ditemani dosennya, Jurike Moniage, sempat menilik kamera pengawas Bandar Udara Soekarno Hatta. "Belum ada kamera pengawas yang bisa memberikan peringatan dini," kata Jeffrey.
Pada dasarnya, Jabbing adalah sistem pendukung berupa peranti lunak. Kamera sebagai perangkat kerasnya mudah dibeli di pasar. Untuk membangun Jabbing, Felix, Jeffrey, dan Ricky menggunakan bahasa pemrograman C/C++. Algoritma berbasis computer vision-mesin dengan kemampuan "melihat" yang rumit pun dibuat sebagai analisis citra. Ini lalu dipadukan dengan algoritma artificial neural network (model komputasi yang meniru jaringan saraf biologis) untuk klasifikasi obyek. "Sebuah aplikasi unik," kata Fredy Purnomo, Ketua Jurusan Teknik Informatika Bina Nusantara.
Teguh Anantawikrama, juri dalam lomba INAICTA 2010 dan Wakil Ketua Komite Tetap Media Kamar Dagang dan Industri Indonesia, terkesan dengan Jabbing. "Aplikasi ini menggunakan artificial intelligence untuk mengenali obyek yang tak seharusnya berada di sebuah tempat," katanya. Jabbing, menurut dia, akan semakin sempurna jika dapat ditambah dengan facial recognition atau sistem pengenalan wajah, sehingga bisa mengidentifikasi seseorang atau obyek bergerak.Rudy Prasetyo
Fitur dalam Jabbing
1. Background removal: membuang latar sehingga kita dapat fokus melihat pada obyek saja.
2. Object labeling: menandai obyek sehingga memudahkan kita menemukan di mana obyek yang ingin diawasi.
3. Object timer: menghitung lama sebuah obyek berada di dalam area pengawasan kamera.
4. Object list: daftar obyek yang berada di kamera pengawas. Obyek yang berada paling lama akan ada di urutan teratas.
5. Alert system: memberikan peringatan ketika ada sebuah obyek yang berada cukup lama dalam pengawasan kamera, menurut waktu yang dapat ditentukan.






