5 Posting Terbaru

Senin, 07 Desember 2009

Malapetaka di Depan Mata

JAKARTA - Malapetaka akibat pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim mengancam semua makhluk tanpa kecuali. Sebagai salah satu upaya menghindarkan petaka tersebut, mulai hari ini, Senin (7/12), utusan lebih dari 190 negara mulai berunding dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark.

Pada Pertemuan Para Pihak Ke-15 (COP-15) Konferensi Perubahan Iklim PBB (UNCCC) ini akan berlangsung negosiasi untuk mencapai kesepakatan baru sebagai pengganti skema Protokol Kyoto yang akan berakhir masa berlakunya pada 2012. Sebanyak 145 negara meratifikasi Protokol Kyoto yang disetujui pada 1997.

Fenomena pemanasan global, menurut pakar agroklimatologi yang juga reviewer emisi karbon negara-negara maju dalam Annex I, Rizaldi Boer, sudah terjadi di Indonesia.

Pendapat senada dinyatakan Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Edvin Aldrian di Jakarta, Sabtu (5/12).

Menurut Edvin, pemanasan global di antaranya terlihat dari perubahan suhu permukaan di seluruh wilayah di Indonesia.

Berdasarkan data dari BMKG tentang perubahan suhu minimum dan maksimum yang terpantau pada 1980-2002 di 33 stasiun pemantau, kenaikan tertinggi perubahan suhu maksimum di Denpasar, Bali, sebesar 0,087 derajat celsius per tahun. Sementara kenaikan tertinggi perubahan suhu maksimum ada di Polonia, Medan, Sumatera Utara, sebesar 0,172 derajat celsius.

”Besarannya berbeda di setiap kota,” ujar Edvin. Kenaikan suhu merupakan kecenderungan yang sedang dihadapi dunia.

Sejumlah bukti ilmiah menunjukkan, kenaikan suhu global pada abad ke-21 diperkirakan 2-4,5 derajat celsius akibat meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.

Di Indonesia, perubahan itu terasa pada panjang pendeknya musim hujan atau kemarau. Secara umum, perubahan iklim berdampak pada musim hujan memendek, sebaliknya musim kemarau semakin panjang.

Di bidang pertanian, hal itu berdampak langsung pada hasil panen. ”Gagal panen dalam sepuluh tahun terakhir kian sering,” kata Rizaldi, yang juga dosen sekaligus Direktur Pusat Pengelolaan Risiko dan Peluang Iklim Kawasan Asia Pasifik (CCROM SEAP) IPB.

Dampak kelautannya, iklim ekstrem mengganggu pelayaran dan nelayan karena badai tropis kian sering. Gelombang tinggi juga kian sering mengganggu nelayan. Nelayan sekarang melaut rata-rata tinggal 200 hari setahun dibandingkan dengan 10 tahun lalu yang bisa 365 hari setahun.

”Nelayan harus tambah ongkos alat dan bahan bakar karena ikan-ikan berenang kian dalam,” kata Direktur Pesisir dan Lautan Departemen Kelautan dan Perikanan Subandono Diposaptono.

Memendeknya musim hujan berbanding terbalik dengan musim kering. Interval kedatangan El Nino pun kian sering menjadi sekali dalam 3-4 tahun, yang semula 7 tahun rentangnya. El Nino akan diikuti musim kering yang panjang yang berpotensi timbulkan kebakaran hutan.

Malapetaka global

Berdasarkan perkiraan sejumlah ahli, suhu Bumi saat ini meningkat 0,5 derajat celsius dari level 150 tahun silam. Kenaikan akan terus meningkat jika tak ada kemauan negara maju menurunkan laju emisi.

Kenaikan muka laut sudah terasa di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Kota Semarang, Belawan (Medan), dan Jakarta merupakan kota terdampak kenaikan muka laut itu, berkisar 5-9,37 milimeter per tahun pada tahun 1990-an. Berdasarkan skenario Panel Internasional Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC), kenaikan suhu Bumi hingga 6 derajat celsius berpotensi menaikkan muka laut hingga 1 meter pada tahun 2100. Puluhan juta penduduk di seluruh dunia akan terancam migrasi karena banjir, kekurangan air, dan iklim ekstrem.

Kondisi Jakarta

Sementara itu, Jakarta hingga kini masih berpredikat sebagai salah satu kota besar penghasil polusi udara terbesar di dunia. Emisi karbon yang dihasilkan kendaraan bermotor dan industri juga besar. Untuk itu, sejak enam tahun terakhir, Jakarta mulai berbenah.

”Perang melawan dampak buruk perubahan iklim dilakukan dengan dua strategi, yaitu adaptasi dan mitigasi. Adaptasi yaitu bagaimana kita berupaya membenahi lingkungan yang mengalami kerusakan dan mitigasi atau pencegahan,” kata Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta Peni Susanti, Minggu.

Menurut dia, beberapa upaya adaptasi, misalnya, dengan penanaman bakau di lahan seluas 344 hektar di pesisir Jakarta Utara, khususnya di kawasan Kapuk. Sementara upaya mitigasi, antara lain, dengan penerapan uji emisi kendaraan bermotor, pemberlakuan hari bebas kendaraan bermotor rutin setiap bulan, kampanye pengelolaan sampah dan mengurangi pembuangan sampah tidak pada tempatnya, serta pembuatan sumur resapan maupun lubang biopori.

Gubernur DKI Fauzi Bowo dalam pertemuan The Asia Pacific Weeks 2009 di Berlin, Jerman, awal Oktober lalu, menekankan, ada banyak hal yang diprogramkan DKI untuk turut melawan dampak perubahan iklim. Program besar yang telah dicanangkan adalah penggunaan bahan bakar gas untuk bus transjakarta dan sebagian bajaj.

Akhir 2009, Jakarta juga menjajaki kemungkinan melebarkan pelayanan bus jalur khusus ke Bekasi dan Tangerang. Pertemuan antarpemerintah wilayah terkait mulai dilakukan. Semua ini dilakukan, kata Fauzi, untuk menyediakan angkutan umum yang nyaman untuk mengurangi emisi karbon.

Perubahan gaya hidup

Anggota Forum Pengembangan Kota Berkelanjutan, Nana Firman, mengingatkan, semua orang sebenarnya berkontribusi pada isu perubahan iklim karena pada setiap aktivitasnya setiap manusia mengeluarkan emisi karbon. ”Mobilitas kita dengan kendaraan itu mengeluarkan emisi karbon karena memakai bahan bakar fosil, bensin. Juga ketika kita membeli barang dan menggunakan barang-barang elektronik. Bahan bakar pembangkit listrik juga bahan bakar fosil, batu bara,” ujarnya.

”Karena kita berkontribusi dan kita menyadari dampaknya, kita harus bertanggung jawab. Untuk itu, kita harus ada niat yang disusul dengan upaya. Upaya ini adalah upaya mengubah perilaku,” ujarnya.

Beberapa perilaku yang bisa diubah demi mengurangi emisi karbon antara lain memilih kendaraan yang lebih kecil emisinya, misal menggunakan kendaraan umum, atau bahkan tanpa mengeluarkan emisi seperti naik sepeda atau jalan kaki.

Ia menyadari, ”Masih banyak PR yang harus dikerjakan karena kesadaran kita bahwa kita berkontribusi pada pemanasan global dan perubahan iklim masih sangat rendah.”

Pohon Cengkeh Tertua di Dunia

TERNATE - Kondisi tanaman cengkih afo di Ternate, Maluku Utara, yang merupakan tanaman cengkih tertua di dunia, kini semakin memprihatinkan karena kurangnya perhatian dari instansi terkait atas keberadaan tanaman tersebut.

"Saya heran, cengkih afo ini dibiarkan tidak terurus, padahal ini memiliki nilai sejarah karena merupakan cengkih tertua di dunia," kata seorang pemerhati peninggalan sejarah di Ternate, Didin Saleh, Jumat (4/12).


Cengkih yang terletak di Kelurahan Tongole, Kecamatan Ternate Tengah atau sekitar 6 Km dari pusat kota Ternate itu, pada batangnya terlihat ada bekas tebasan parang dari oknum tidak bertanggung jawab.

Cengkeh Afo adalah pohon cengkeh tertua di dunia yang terdapat di kota Ternate. Menurut cerita, pohon cengkeh ini sudah roboh beberapa bulan yang lalu.

Pohon cengkeh ini berumur 416 tahun, Tinggi 36,60 m, Garis Tengah 198 m dan Lingkaran 4,26 m. Cengkeh Afo ini mampu menghasilkan sekitar 400 kg Cengkeh tiap tahunnya.

Menurut Didin yang juga seorang sarjana pertanian itu, tebasan pada batang pohon cengkih yang tingginya 36,6 meter tersebut diduga sengaja dilakukan oleh oknum tertentu untuk mengambil bagian batang pohon demi kepentingan bisnis.

Sesuai informasi yang ada, kulit dan bagian batang pohon yang ditebas dari pohon cengkih afo tersebut dijual kepada oknum peniliti dari negara untuk kembangkan menjadi bahan kultur jaringan.

"Kalau Pemkot Ternate dan pihak terkait lainnya tidak segera melakukan langkah-langkah untuk mengamankan keberadaan cengkih afo tersebut, saya khawatir dalam waktu tidak lama cengkih itu akan mati," katanya.

Jalan setapak dari jalan raya ke lokasi cengkih yang berusia sekitar 416 tahun itu, juga mulai rusak dan tidak ada tanda-tanda dari pemda setempat untuk memperbaikinya.

Pihak Pemkot Ternate belum dapat dikonfirmasi terkait kondisi cengkih afo tersebut, namun sebelumnya Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Ternate, Arifin Umasangaji mengatakan, cengkih afo itu telah menjadi salah satu cagar budaya dan objek wisata di Ternate.

Oleh karena itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Ternate telah membangun berbagai fasilitas di sekitar lokasi cengkih afo, seperti membangun jalan setapak sepanjang 2,5 Km untuk memudahkan pengunjung mencapai pohon itu.

Sabtu, 31 Oktober 2009

Patahan Opak Peringatan untuk Lembang

Gempa berkekuatan 5,9 skala Richter yang menerjang Bantul dan Klaten pada tahun 2006 diketahui bersumber pada Patahan Opak yang telah lama tertidur. Belajar dari bencana tersebut, perhatian para ilmuwan kini mengarah pada patahan-patahan di Jawa Barat, antara lain Lembang yang melewati permukiman padat.

Petaka yang melanda wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006 merupakan peristiwa yang amat mengejutkan, karena sumbernya adalah sesar atau patahan Opak yang nonaktif.


Gempa itu menggugah kita bahwa setiap patahan, entah aktif ataupun tidak, berpotensi mengancam ribuan jiwa. Berkaca dari kejadian di Opak, lembaga penelitian mulai melakukan survei geologi sesar di Pulau Jawa, terutama di Jawa Barat, agar tak lagi kecolongan.

Survei itu dilakukan para peneliti Indonesia bekerja sama dengan Jepang, melalui Kementerian Negara Riset dan Teknologi dan Japan International Cooperation Agency (JICA). Riset selama tiga tahun ini dinamakan Proyek Pengurangan Bahaya Multidisiplin Gempa dan Vulkanik di Indonesia, melibatkan peneliti dari Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk melakukan survei geologi dan paleoseismologi.

Survei pergerakan patahan menggunakan jejaring global positioning system (GPS) dilaksanakan oleh Kelompok Keilmuan Geodesi Institut Teknologi Bandung (KKG-ITB) yang bekerja sama dengan Geographical Survey Institute of Japan (GSI).

Survei GPS selama tiga tahun terakhir, ujar Ketua KKG-ITB Hasanuddin Z Abidin, dilakukan di tiga sesar utama di Jawa Barat, yaitu Cimandiri, Lembang, dan Baribis. Patahan Cimandiri membentang dari Palabuhanratu hingga Padalarang sepanjang sekitar 100 kilometer (km). Patahan Lembang sekitar 22 km. Di bagian paling timur Jawa Barat ada Patahan Baribis melintasi Subang hingga Majalengka.

Untuk mengetahui pergerakan tanah di sesar tersebut telah dan akan dipasang stasiun GPS di Bosscha Lembang, Kampus ITB, Ciater, Gunung Cireme, Gunung Papandayan, dan Gunung Guntur. ”Dengan pemasangan stasiun GPS ini, dapat diketahui besaran gaya yang bersumber dari zona subduksi lempeng yang memengaruhi keseimbangan sesar-sesar ini,” tutur Hasanuddin.

Penelitian tersebut, ungkap Heri Andreas, seorang anggota KKG-ITB, menemukan adanya bagian ”terkunci” (locking) di sepanjang Sesar Lembang pada kedalaman 15 km-20 km di bawah permukaan tanah.

”Dengan mengetahui data kegempaan terakhir dan tingkat akumulasi energi, dapat diketahui pola deformasi yang terjadi. Untuk itu, diperlukan data GPS dalam kurun waktu yang panjang dan bersifat terus-menerus. Paling tidak perlu waktu lima tahun lagi untuk mengetahui hal itu,” lanjut Heri.

Patahan Lembang

Patahan Lembang yang berada di utara Lembang merupakan salah satu sesar yang menjadi obyek riset LIPI. Pada Kamis (22/10), Eko Yulianto, ahli gempa purba LIPI, bersama peneliti dari Pusat Riset Gempa Badan Survei Geologi Jepang dan tim dari JICA melakukan pengeboran di Lembang.

Pengeboran tanah sedalam 40 km di areal kompleks perumahan mewah di Lembang itu bertujuan menemukan ”rekam jejak” Sesar Lembang selama 40.000 tahun terakhir.

”Data kegempaan dan penelitian di Lembang sangatlah minim,” ujar Eko. Data dari penggalian selama 3-4 hari itu akan melengkapi hasil riset awal Patahan Lembang pada tahun 2008, termasuk membuat simulasi potensi gerakan tanah.

Pada tahun 2008 LIPI pernah menggali tanah di Lembang, tetapi hanya sedalam 3 meter. Hasilnya, diketahui jejak gerakan gempa 3.000 tahun terakhir. Selama itu telah terjadi tujuh kali pergerakan besar Sesar Lembang.

Misteri

Rekaman tersebut diketahui dari lapisan tanah bekas sagpond (areal rawa yang tercipta akibat pergerakan patahan). Namun, belum diketahui mekanisme pergerakan Patahan Lembang akibat lambannya laju pergerakan sesar, 2 milimeter-5 milimeter per tahun. ”Periode kegempaan di Patahan Lembang pun terbilang sangat lama, yaitu 400-700 tahun. Kondisi Patahan Lembang hampir mirip Patahan Opak,” kata Danny Hilman, pakar gempa LIPI.

Jadi tidaklah mengherankan jika tidak ada catatan sejarah yang menunjukkan keaktifan sesar yang membentang Manglayang-Parongpong, Lembang.

Menurut Eko, jika patahan sepanjang 22 km ini bergerak sekaligus, gempa yang dihasilkan bisa mencapai 6,7 skala Richter. Tentang potensi kegempaan ini, Danny menyebut skala 6,9 SR, sedangkan peneliti Jepang, Terriyuki Kato, memperkirakan 7 SR.

Gempa sebesar itu, tutur Eko, sangat berbahaya. Seperti Yogyakarta, struktur tanah di Lembang dan Bandung pun endapan muda, bekas danau purba. Tanah semacam ini belum terkonsolidasi sehingga dapat menimbulkan amplifikasi gelombang. Efeknya mirip bubur di mangkuk saat kita goyang. Gempanya telah berhenti, tetapi guncangannya masih terus terjadi.

Ancaman kelas dunia

Menurut Brian Atwater, paleoseismolog dari United States Geological Survey (USGS), ancaman bencana Patahan Lembang termasuk kategori kelas dunia karena patahan itu berada di dekat kawasan kota yang sangat padat. Hal yang jarang terjadi di dunia.

Di lokasi terlihat, di sekitar patahan itu telah berdiri banyak perumahan dan vila mewah. Kawasan Observatorium Bosscha yang menjadi warisan astronomi dunia juga dilintasi patahan ini.

Gede Suantika, peneliti Pusat Studi Vulkanologi dan Bencana Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, mengatakan, berdasarkan puluhan pengamatan terakhir, gempa di Patahan Lembang jumlahnya sedikit—sesekali dalam lima tahun.

Menurut dia, potensi ancaman gempa yang lebih besar justru muncul dari patahan Baribis di utara Subang. Sesar yang belum banyak dikaji ini tidak jarang menciptakan gempa skala sedang. Sesar ini secara imajiner juga tersambung dengan Patahan Cimandiri.

Isamu Kuboki, Koordinator Proyek Pengurangan Bahaya Multidisiplin Gempa dan Vulkanik di Indonesia, mengatakan, salah satu tantangan terbesar bagi Indonesia adalah menyosialisasikan potensi gempa dari patahan. Mengingat, kebanyakan di sekitar patahan di Indonesia, justru menjadi pusat ekonomi masyarakat. Salah satunya, di Lembang.

Sumber Kompas.com


Nuklir Lebih Ramah Lingkungan?


Nuklir adalah salah satu sumber energi yang ramah lingkungan. Bahkan, polusi yang ditimbulkan energi nuklir jauh lebih kecil dibanding polusi energi fosil. Artinya, pemanasan global akibat polusi energi fosil yang terus meningkat sebenarnya dapat diatasi dengan pengembangan nuklir sebagai sumber energi.

"Nuklir itu sangat ramah lingkungan. Orang tidak bisa membedakan mana yang ramah lingkungan dan mana yang berisiko tinggi. Kalau risiko tinggi, iya," ujar Muhamad Najib, anggota DPR Komisi VII dalam Workshop Nuklir untuk Listrik Pangan dan Kesehatan 2009, Kamis (29/10) di ICMI Center, Jakarta.



Namun, sampai saat ini nuklir masih ditakuti dan dianggap momok sehingga jenis energi ini belum dipercaya untuk memberikan kontribusi dalam menyediakan kebutuhan energi di Indonesia. "Kata-kata nuklir selalu jadi momok di Indonesia. Orang awam, kalau baca nuklir, takut," ujar Sugiharto, Ketua Dewan Pakar ICMI saat membuka workshop tersebut.

Menurut data Departemen ESDM, energi primer di Indonesia hanya bersumber dari minyak bumi, gas, batu bara, panas bumi, air, dan biofuel. "Nuklir belum memberikan kontribusi. Mau mulai yang di Jepara, itu selalu diganggu," ujar Muhamad Najib.

Menurutnya, selain kesan yang menakutkan, pembangunan pembangkit tenaga nuklir juga terkendala biaya. "Membangun PLTN memang butuh dana triliunan, tapi kalau sudah jadi, bisa sampai 20 tahun, dan tidak membutuhkan banyak dana," ujar Muhamad Najib.

Untuk itu, Indonesia harus berani mengambil risiko mengembangkan nuklir sebagai sumber energi masa depan. "Batu bara 30-40 tahun habis, minyak bumi 20 tahun ke depan habis," ujar Muhamad Najib.


Ledakan Meteor di Bone Lampaui Kekuatan Bom Atom

Ledakan meteor di Bone, Sulawesi Selatan, pada 8 Oktober lalu menyita perhatian ilmuwan dunia. Ledakan yang dipicu asteroid besar itu bahkan dilaporkan sampai terdeteksi oleh alarm infrasound milik Comprehensive Nuclear Test Ban Treaty Organization (CNTBTO) yang berjarak 10.000 km dari lokasi jatuhnya meteorit.


Seperti dilaporkan Spaceweather.com, ledakan besar di Bone dipastikan akibat jatuhnya asteroid berdiameter 10 meter. Kekuatan ledakan itu, menurut peneliti dari University of Western Ontario, Elizabeth Silber dan Peter Brown, setara dengan 50 kiloton bom TNT. Atau, dua sampai tiga kali lipat lebih kuat dari ledakan bom atom yang terjadi di Perang Dunia ke-II.

Sampai-sampai, ledakan ini terdeteksi oleh alat sensor CNTBTO yang memang dikhususkan mendeteksi aktivitas atau ledakan nuklir di bumi. Ledakan ini sangat mengejutkan astronom dunia. Sebab, mereka tidak mendeteksi keberadaan asteroid ini sebelum menghunjam bumi.

Berdasarkan data statistik menyangkut populasi asteroid yang beredar di dekat bumi, asteroid-asteroid cukup besar seperti yang jatuh di Bone biasa menghantam bumi dalam kisaran 2-12 tahun sekali. "Observasi lebih lanjut akan sangat berharga untuk bisa menjelaskan event unik ini," tutur Silber.

Seperti diketahui, ledakan asteroid ini sempat mengakibatkan kepanikan warga. Tanah-tanah dan bangunan bergetar, langit pun bergemuruh. Awalnya, ledakan ini sempat dikira ledakan pesawat, bahkan sampai gempa.

Sumber Kompas.com


Senin, 26 Oktober 2009

Valentino Rossi Juara Dunia 2009!

SEPANG, Pebalap Italia, Valentino Rossi, memastikan diri menjadi juara dunia MotoGP 2009 setelah menempati posisi ketiga di GP Malaysia, Minggu (25/10).

Rossi menempati posisi dalam lomba yang akhirnya dimenangi oleh pebalap Ducati asal Australia, Casey Stoner. Sementara itu, pebalap Spanyol, Dani Pedrosa, berada di posisi kedua. Rossi, pebalap tim Fiat Yamaha yang sudah unggul 38 poin dari pesaing terdekatnya, Jorge Lorenzo, hanya butuh posisi empat besar untuk mempertahankan gelar juara dunia.


Lomba GP Malaysia ditandai dengan dihukumnya pebalap asal Spanyol, Jorge Lorenzo. Menempati posisi kedua dalam kualifikasi, Sabtu, Lorenzo terkena hukuman karena dianggap gagal menempati posisi pada waktunya. Lorenzo sendiri akhirnya masuk finis di urutan keempat.

Balap MotoGP sempat ditunda beberapa menit akibat hujan deras yang mengguyur sirkuit Sepang. Sebelumnya, cuaca cukup cerah sehingga semua pebalap bisa melakukan sesi pemanasan Minggu pagi.

Hasil GP Malaysia, Minggu (25/10):
1. Casey Stoner Ducati 47m24.834s
2. Dani Pedrosa Honda + 14.666s
3. Valentino Rossi Yamaha + 19.385s
4. Jorge Lorenzo Yamaha + 25.850s
5. Nicky Hayden Ducati + 38.705s
6. Chris Vermeulen Suzuki + 41.061s
7. Toni Elias Gresini Honda + 48.555s
8. Marco Melandri Hayate Kawasaki + 55.557s
9. Loris Capirossi Suzuki + 1m00.303s
10. Mika Kallio Pramac Ducati + 1m00.440s
11. Aleix Espargaro Pramac Ducati + 1m01.655s
12. Alex de Angelis Gresini Honda + 1m01.847s
13. Colin Edwards Tech 3 Yamaha + 1m10.778s
14. Gabor Talmacsi Scot Honda + 1m15.851s
15. James Toseland Tech 3 Yamaha + 1m50.672s

Gagal finis
Andrea Dovizioso Honda 14 lap
Randy de Puniet LCR Honda 1 lap


Taman di Bandung Mulai Dilengkapi "Hotspot"

BANDUNG, Kreativitas di Kota Bandung memang tidak ada matinya. Untuk mendorong kreativitas dan meningkatkan kenyamanan warga kota, Taman Dago disulap menjadi tempat nongkrong yang asyik, bahkan dilengkapi fasilitas hotspot (Wi-fi) gratis.

"Taman kota harus bisa multifungsi. Tidak hanya dengan fungsi hijaunya, melainkan juga bisa menjadi tempat warga untuk santai-santai, belajar, dan berbagi informasi. Makanya, Taman Dago ini nantinya akan dipasang hotspot," tutur Sekretaris daerah Kota Bandung Edi Siswadi di dalam peresmian Huruf Dago di Taman Dago, Sabtu (24/10).




Ketua Bandung Creative City Forum (BCCF) Ridwan Kamil mengatakan, untuk membuat warga merasa tertarik dan nyaman berada di sebuah taman kota, harus ada elemen baru di dalamnya, misalnya, melalui sentuhan faktor estetika. Pembuatan Patung Huruf Dago di Taman Dago merupakan salah satu upayanya.

Menjadi tantangan bagi kita bagaimana membuat orang-orang berdatangan ke taman kota, bukan lagi mal, tutur arsitek pendiri Urbane Indonesia ini. Ia bermimpi, di Kota Bandung, ke depan, akan semakin banyak taman-taman tematis yang berdiri.

Hal ini akan menjadikan Bandung sebagai kota yang paling nyaman, kota dengan kualitas hidup tertinggi di Indonesia, tutur Ridwan Kamil berharap. Merujuk pada polling Metro 10 yang dilakukan Metro TV, Kota Bandung adalah kota nomor dua dengan kualitas hidup terbaik di Indonesia. Bandung masih kalah dibandingkan Yogyakarta.

Patung Huruf Dago yang direncanakan berbahan tembaga akan dibuat George Timorason, pematung dari Bandung. Saat ini, di tempat yang sama, untuk sementara berdiri replika Patung Huruf Dago yang terbuat dari kayu. Replika ini dibuat oleh Rumah Makan Bumbu Desa.

Edi Siswadi berharap, ke depan, seluruh taman kota di Bandung akan menerapkan konsep serupa, yaitu bahwa taman kota sebagai ruang publik harus bisa menopang industri kreatif yang kini tumbuh subur di Bandung. Di Kota Bandung, saat ini terdapat sekitar 604 taman kota yang berfungsi sebagai ruang terbuka hijau.

Sumber : Kompas.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Topik Populer Bulan ini